Tanya AI kali ini menyajikan rangkuman diskusi seputar salah satu karya horor psikologis paling dikenal dalam sejarah perfilman, The Shining, keberlanjutan ceritanya dalam Doctor Sleep, serta jejak rekam Stephen King sebagai penulis di balik kisah-kisah tersebut.

Tanya: Bisa ceritakan detail plot dan sinopsis dari film The Shining (1980)?

AI: The Shining berpusat pada Jack Torrance, seorang penulis yang menerima pekerjaan sebagai penjaga musim dingin di Overlook Hotel yang terisolasi. Ia membawa istrinya, Wendy, dan putranya, Danny. Danny memiliki kemampuan telepati yang disebut “the shining”, yang membuatnya mampu melihat visi masa lalu hotel yang kelam.

Seiring berjalannya waktu, badai salju memutus akses hotel dari dunia luar. Isolasi ini memicu krisis mental pada Jack (sering disebut cabin fever), yang kemudian diperburuk oleh pengaruh entitas supernatural di dalam hotel. Puncak cerita terjadi ketika Jack kehilangan kewarasannya dan memburu keluarganya dengan kapak. Wendy dan Danny berhasil melarikan diri, sementara Jack tewas membeku di tengah badai salju. Film diakhiri dengan foto lawas tahun 1921 yang memperlihatkan wajah Jack, memunculkan interpretasi ambigu mengenai reinkarnasi atau penyerapan jiwa oleh hotel.

Tanya: Apakah film ini memiliki sekuel?

AI: Ya. Sekuelnya berjudul Doctor Sleep, dirilis pada tahun 2019, yang juga diadaptasi dari novel Stephen King terbitan 2013.

Tanya: Bagaimana kelanjutan ceritanya di Doctor Sleep?

AI: Cerita bergeser fokus pada Dan (Danny) Torrance di masa dewasa. Trauma masa kecil membuatnya berjuang melawan kecanduan alkohol untuk menekan kemampuan “shining”-nya. Ia kemudian bekerja di sebuah rumah sakit perawatan akhir hayat, menggunakan kemampuannya untuk menenangkan pasien yang akan meninggal, sehingga dijuluki “Doctor Sleep”.

Konflik utama muncul ketika Dan terhubung secara telepati dengan Abra Stone, seorang remaja dengan kekuatan “shining” yang masif. Abra diburu oleh kelompok semi-abadi bernama The True Knot yang dipimpin oleh Rose the Hat. Kelompok ini membunuh individu dengan kemampuan “shining” untuk mengonsumsi esensi kehidupan mereka. Untuk mengalahkan kelompok tersebut, Dan dan Abra memancing Rose kembali ke reruntuhan Overlook Hotel. Di sana, Dan melepaskan entitas masa lalu hotel untuk mengalahkan Rose, sebelum akhirnya mengorbankan diri dengan meledakkan fasilitas pemanas hotel untuk menghancurkan tempat itu selamanya.

Tanya: Apa saja rekomendasi film serupa yang mengangkat tema horor psikologis, isolasi, atau trauma?

AI: Terdapat beberapa film dengan pendekatan psikologis dan tema serupa:

– 1408 (2007) & Misery (1990): Keduanya juga adaptasi Stephen King, berfokus pada karakter penulis yang terjebak dalam situasi terisolasi yang mengancam nyawa dan kewarasan.
– Hereditary (2018): Mengeksplorasi trauma psikologis dan kutukan yang diwariskan dalam garis keturunan keluarga secara perlahan (slow-burn).
– The Black Phone (2021): Mengangkat tema anak dengan kemampuan supranatural yang berusaha melawan entitas jahat, memiliki kedekatan tema dengan dinamika cerita Doctor Sleep.
– The Lighthouse (2019): Memperlihatkan kerusakan mental akibat isolasi ekstrem (cabin fever) dari dua penjaga mercusuar.

Tanya: Secara keseluruhan, ada berapa total buku yang pernah ditulis oleh Stephen King?

AI: Stephen King adalah penulis yang sangat produktif. Jika dihitung dari publikasi buku utamanya, ia telah merilis lebih dari 80 buku, yang terdiri dari sekitar 67 novel (termasuk 7 novel di bawah nama pena Richard Bachman), belasan buku koleksi antologi, dan 5 buku non-fiksi. Namun, jika dihitung berdasarkan karya individual (mencakup lebih dari 200 cerita pendek, naskah skenario, esai, dan artikel), total karyanya melampaui 300 karya tulis.

Tanya: Dari total karya tersebut, berapa banyak yang sudah diadaptasi menjadi film?

AI: Karya Stephen King memegang rekor sebagai salah satu yang paling banyak diadaptasi ke medium audio visual. Saat ini terdapat lebih dari 80 adaptasi dalam bentuk film layar lebar, film televisi, dan serial.

Beberapa karya adaptasinya yang paling dikenal dan mendapat pengakuan kritis tidak selalu bergenre horor murni. Selain The Shining dan IT, adaptasi non-horornya seperti The Shawshank Redemption (1994), The Green Mile (1999), dan Stand by Me (1986) sering menempati posisi puncak dalam daftar film drama terbaik secara global. Keberhasilan adaptasi-adaptasi ini umumnya didorong oleh fokus narasi pada kondisi psikologis, isolasi, dan moralitas manusia. (*)