Jalan-jalan ke Bandung tak lengkap rasanya kalau tidak ke Braga. Sayangnya masih ada yang harus diperbaiki di jalanan panjang mirip Malioboro ini.
Liburan di Bandung akhir Maret kemarin menjadi momen saya akhirnya bisa mampir ke Braga. Jalanan ini selalu dibicarakan di media sosial karena disebut-sebut estetik dan penuh dengan kenangan.
Saya datang ke sana saat Minggu sore dan mendapati jalan ini sangat ramai. Semakin malam makin ramai, bahkan saat saya meninggalkannya sekitar jam 9, jalan itu tetap ramai. Wajar saat itu pekan terakhir bulan Maret sekaligus masih suasana libur Lebaran.
Setelah mengamati dan berjalan-jalan cukup lama, ternyata Braga ini mirip dengan Suryakencana di Kota Bogor. Bedanya Braga ini menonjolkan sisi modernitas Bandung dengan segala kafe, museum, galeri, dan sebagainya, sedangkan Suryakencana berkonsep jalanan bernuansa China dengan kuliner khasnya. Namun kedua jalan ini bukan konsep baru sebab Malioboro lebih terkenal dibanding keduanya.
Entah kenapa jalanan panjang estetik dengan berbagai macam tempat di dalamnya selalu menjadi lokasi wisata. Setiap daerah pasti memiliki Braga-nya masing-masing. Namun harus diakui, Braga ini punya vibes yang cukup unik.
Walau satu konsep dengan Malioboro dan Suryakencana tapi setiap tempat memiliki citranya sendiri. Braga ini terlihat cukup estetik karena bangunan tua berpadu dengan modernisasi. Ini membuat setiap sudut jalan menjadi tempat idaman untuk berfoto.
Saya mengambil beberapa gambar khususnya suasana jalanan yang ramai. Pengunjung yang padat bukan hanya menambah kepadatan tapi juga suasana yang makin hidup. Resto, kafe, dan sebagainya menjadi daya pikat untuk bisa singgah.
Kami pun memilih Lighting Art Braga, semacam galeri seni yang menawarkan tempat berfoto dengan beragam tema mulai dari laut, kemping, gunung, salju, dan sebagainya. Di sana kami mengeluarkan kocek 60 ribu per orang, kami diberikan waktu untuk menjelajahi 24 background foto beragam tema. Istri saya dibuat senang sekali karena bisa berfoto ria dengan berbagai pose.
Selain ke situ kami juga mencicipi batagor di pinggir jalan. Batagor yang segede telapak tangan itu cukup membuat kaget. Hanya saja saya kemudian baru ingat ternyata batagor itu asalnya dari Bandung, jadi wajar saja ada yang segede telapak tangan itu.
Saya tidak sempat menghitung berapa panjang jalanan Braga ini. Namun yang menarik, berwisata di Braga tidak hanya sebatas menyusuri jalan dan kuliner. Jalan ini terintegrasi dengan Jalan Asia Afrika yang terkenal dengan terowongannya yang biasa jadi spot foto karena terdapat tulisan estetik. Selain itu, ternyata di Jalan Asia Afrika juga ada Masjid Agung dan Alun-alun Kota Bandung.
Jadi saat ke Braga banyak tempat yang bisa dijelajahi sekaligus. Bila ingin seharian pun bisa. Sebab ada bioskop di jalan ini sehingga untuk sekadar berlama-lama bukan hal sulit. Begitu pun dengan penginapan yang banyak tersebar di berbagai sudut jalan.
Hanya saja jalanan di Braga tidak serapi dengan di Malioboro. Perlu diakui, Malioboro merupakan wisata yang benar-benar disiapkan dengan matang. Terutama parkir yang disediakan khusus di beberapa tempat yang terpusat. Ini tentunya berbeda dengan di Braga ataupun Suryakencana yang masih parkir di badan jalan dan trotoar sehingga jalanan menjadi sempit dan macet.
Masalah lain tentunya adalah PKL yang masih belum teratur dan rapi. Memang ada wilayah PKL yang dibuat khusus di salah satu jalanan. Namun PKL masih bertebaran di sisi lain jalan. Mereka juga menjadi penyebab macet.
Ke depannya memang ini menjadi tantangan di Braga. Sebagai tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi, mungkin perlu dilakukan penataan lebih serius. Memang tidak mudah namun Malioboro sudah membuktikannya. Terlepas dari itu Braga tetap menyimpan kenangan yang membuat kita ingin kembali. (*)
Memperbaiki Braga
