Saya pernah membaca informasi bahwa Bandung kota termacet di Indonesia. Sayangnya saya tidak menemukannya di sana.
Saya ke Bandung untuk pertama kali pada 27-30 Maret kemarin. Tujuannya untuk liburan ke kota-nya dan sekitarnya: Lembang dan Ciwidey. Saya tidak menaruh ekspektasi berlebihan terhadap Bandung karena bagi saya yang tinggal di Bogor, Bandung sepertinya mirip dengan Bogor.
Sampai di sana saya menginap di penginapan tak jauh dari Stasiun. Berdua dengan istri, kami berjalan sekitar 700 meter ke penginapan. Selama tiga hari banyak pelajaran yang saya dapatkan selama di sana.
Mirip dengan Bogor
Sepenglihatan saya Bandung seperti Bogor tapi versi lebih luas. Bangunan-bangunannya tidak banyak yang menjulang tinggi seperti halnya di Jakarta atau Makassar. Kota ini juga tumbuh bukan menjadi kota penghasil produk melainkan kota jasa dan wisata.
Jadi tidak heran, sepanjang jalan banyak kita menemui restoran, cafe, penginapan, hotel, tempat rekreasi dan sebagainya. Hanya saja di Bandung lebih banyak bangunan tua sehingga terlihat lebih estetik.
Selain itu secara ketenangan, kota ini juga cukup tenang tidak seramai Makassar (kota yang pernah saya tinggali lima tahun), begitupun keramahan warga dan pengendaranya juga mirip: tidak memakai emosi dalam menjalin hubungan manusiawi. Situasi ini mungkin dipengaruhi oleh udara dingin yang terasa sepanjang waktu. Bandung dan Bogor sama-sama kota sejuk namun Bandung lebih sejuk bahkan di siang hari.
Jarang Bunyi Klakson
Situasi ini cukup membuat kagum saya yang sering emosi saat mengendarai motor. Di sini pengendara tak kunjung membunyikan klakson saat lampu merah berganti hijau, saat kebodohan pengendara di depan menyebabkan macet, dan saat ada pengendara lain yang menghalangi jalan.
Saya beberapa kali mengucapkan kekaguman atas perilaku ini. Sebab sebagai orang yang tumbuh di wilayah Sulawesi, klakson itu fitur penting untuk memastikan jalan kita tak dihalangi orang lain. Namun alih-alih menggunakan fitur tambahan itu, warga Bandung justru menghindarinya.
Banyak Jalan Satu Arah
Pengaturan lalu lintas ini menjadi perhatian saya saat waktu tempuh berkendara memakan waktu cukup lama padahal jaraknya tidak seberapa. Di maps lokasinya sepertinya tidak jauh, tapi karena satu arah sehingga harus banyak jalan dilewati. Pergi dan kembali ke tempat yang awal tidak mungkin melewati jalan yang sama.
Senior saya di wartawan pun mengiyakan hal ini. Bahkan dirinya mengucapkannya lebih dulu saat kami membahas soal liburan saya di Bandung. Menurutnya Bandung mirip dengan Jakarta: banyak jalan satu arah sehingga harus melewati banyak jalan untuk sekadar sampai di seberang wilayah.
Kota yang Tidak Macet
Saya sudah sampaikan di awal, kota ini disebut salah satu kota termacet di Indonesia. Namun tiga hari di sana saya justru tidak menemukannya. Memang iya ada kemacetan di beberapa titik kota seperti di Dago dan sekitar Braga, tetapi macet yang saya temui mirip seperti kemacetan di Bogor atau Makassar.
Macet yang saya alami selama akhir pekan terakhir libur lebaran ini tidak sesuai predikat kota termacet di Indonesia. Macetnya bahkan lebih longgar dibanding di Bogor dan Makassar. Entah saya yang lagi beruntung atau memang selera macet saya yang ketinggian.
Saya bahkan menjadi kepikiran untuk tinggal di Bandung. Saat Minggu pagi berkeliling mencari sarapan, saya mendapati Bandung dalam bentuk yang sempurna. Sejuknya embun pagi yang memberikan pertunjukan terakhirnya bertemu dengan cahaya matahari yang memeluk erat dari belakang.
Warga yang sudah beraktivitas di antara kabut yang perlahan hilang seakan membuatnya tak berada di kota metropolitan berpenduduk 2.5 juta orang. Mereka tak ubahnya warga pedesaan yang sedang datang menjemput rezeki ke tengah kota. Klakson yang harusnya bernyanyi riang di tengah padatnya kemacetan pun tak ada.
Kota yang Dirindukan
Nampaknya ini juga alasan Bandung itu sering dirindukan banyak orang. Rindu setiap orang berbeda-beda, jadi tidak selamanya rindu hanya soal yang baik ada pula yang buruk.
Saya berada di posisi yang buruk, saya rindu untuk kembali di Bandung bukan sekadar kotanya yang nyaman namun untuk mencari kemacetan yang belum terbukti. Serius. Ini bukan alibi untuk kembali di Bandung dan menikmati keindahannya yah, hehehe. (*)
Mencari Macet di Bandung
