Liburan memang selalu ada saja tantangannya. Padahal kita mau meliburkan tubuh dan pikiran dari penatnya pekerjaan, tetapi ada saja hal yang membuat berpikir keras.
Tantangan ini saya hadapi saat hendak liburan ke Bandung. Karena saya pergi di waktu kerja, maka mesti kerja dulu setengah hari.
Apesnya, hari itu adalah waktu sibuk jadi banyak hal yang harus dikerjakan. Hingga pukul 14.00 saya belum juga kembali ke kontrakan untuk menjemput istri, padahal janjinya jam segitu sudah jalan ke stasiun.
“Di mana? Belum pulang?” WhatsApp-nya singkat. Saya yang baru selesai kerja pun dibuat panik. Saya ingat waktu begitu cepat dan sudah terlalu lama. Motor pun saya tancap secepatnya walau tahu motor mio 2011 ini tak bisa dibawa kebut-kebutan.
Konsep waktu cepat berlalu tak berlaku pada kecepatan motor yang saya tunggangi. Walau sedang terburu-buru kembali ke kontrakan dan ke stasiun Bogor tapi motor seakan tak mau mengikuti adrenalin.
Saya terburu-buru karena harus mengejar tiket kereta Jatinegara-Bandung pada pukul 18.41 sore. Kami yang di Bogor idealnya harus tiga atau empat jam sebelum keberangkatan sudah ke lokasi sebab mesti ke Stasiun Manggarai sebelum ke Jatinegara.
Jarak yang jauh ini pun kerap kali saya dan warga lain keluhkan. Kami harus selalu ke Jakarta dulu untuk ke mana-mana, bahkan ke ibu kota provinsi sendiri pun harus ke provinsi lain. Ribetnya ini pun pernah direspons oleh Pemprov Jabar dengan rencana pembukaan jalur kereta lama yang menghubungkan Bandung hingga Bogor lewat Cianjur.
Namun ini baru sebatas rencana jadi belum ada realisasi. Kami berdua pun harus tetap berangkat ke Stasiun Manggarai Jakarta sekitar pukul 15.00. Estimasi awal sampai di Jatinegara jam 5 sore, namun ternyata tiba lebih cepat dibandingkan perkiraan.
Kami pun punya cukup waktu untuk belanja makanan ringan. Syukurlah, saya berlega diri walau sempat terburu-buru saat di Bogor bahkan marah-marah ke motor kesayangan ternyata tidak telat. Maafkan aku motor.
Tantangan selanjutnya pun menghampiri: tidak ada makanan murah di Stasiun Jatinegara. Saat ketemu sisa satu: roti dengan harga 10 ribu. Kami kongsi berdua yang menjadi awal petaka.
Makan berdua memang romantis, namun hanya romantis di mata, tidak di perut. Kami yang ingin berhemat harus menanggung rasa sakit akibat maag yang kambuh. Karena saya lupa makan siang, makan sore hanya roti setengah, akhirnya malamnya mag datang menyapa. Tak hanya saya, istri juga, bukan karena tidak makan siang tapi tidak makan sore.
Kami berdua menahan rasa sakit perut dan kepala. Untuk mengatasinya, kami membeli makanan di kereta. Dan seperti biasa harganya bukan main, berbeda jauh dengan harga warung pinggir jalan. Rp44 ribu satu porsi nasi goreng Parahyangan (sesuai nama kereta) harganya atau 88 ribu berdua.
Kami yang berangkat setelah magrib dengan keadaan lapar dan kesakitan pun membelinya. Awalnya ingin satu bagi dua, namun karena tidak mau terulang seperti tadi di stasiun, saya memutuskan beli dua. Makan lebuh baik sepiring masing-masing, tak perlu lagi keromantisan karena perut lebih membutuhkan dibanding pikiran.
Kenyang, sudah pasti. Nasi gorengnya cukup enak dan komplet: nasi (tentunya), telur, ayam beberapa potong, kerupuk, dan beberapa item yang saya lupa. Namun kenyangnya hanya sesaat.
Maag yang menyapa belum hilang sepenuhnya. Kami pun sepanjang dua jam tiga puluh menit perjalanan (perjalanannya 3 jam namun 30 menit awal saya sudah gunakan dengan makan) harus menahan sisa-sisa rasa sakit dengan pusing yang berkepanjangan.
Saya pun heran, padahal tiga bulan lepas saya naik kereta antarkota juga, dua kali lagi, tapi tidak se-mabuk ini. Bahkan kami berdua harus menahan rasa muntah yang menggoda sepanjang jalan. Untungnya hingga sampai di Bandung kurang 40 menit jam 10 malam, muntah tak mampu menembus kerongkongan.
Kami tiba dengan selamat walaupun dengan pusing yang perlahan pamit. Apakah sudah selesai masalah? Tidak. Kami harus cari penginapan.
Butuh puluhan kali buka-buka aplikasi untuk mengecek tiket yang cocok. Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki sekitar 700 meter, walau dekat tapi karena dalam keadaan capek, jadi terasa begitu melelahkan.
Untungnya walau aplikasi di perangkat Android tak mampu memenuhi kebutuhan, namun pencarian offline menemui titik terang. Kami mendapatkan penginapan sederhana di gang kecil. Cukup untuk istirahat hingga liburan tiga hari ini selesai.
Kesimpulannya: perencanaan yang berhasil adalah perencanaan yang dieksekusi dengan baik pula. Seribu rencana pun tak akan sebanding dengan satu eksekusi yang baik walau tanpa rencana.
Akan tetapi seperti manusia yang selalu penuh dosa, saya sadar ini kesalahan pribadi yang tidak melakukan eksekusi yang baik. Saya tetap wajib bersyukur bisa libur lebaran (walau telat) karena ini menjadi nikmat yang luar biasa bagi budak korporat Jabodetabek.
Ini adalah seri tulisan liburan ke Bandung. Karena liburannya tiga hari maka akan ada tiga tulisan lagi. Mudah-mudahan tulisan selanjutnya tidak apes lagi ya! (*)
Liburan Bikin (Stres) Senang
