Jika kamu mencari film Lebaran yang menyejukkan hati dan penuh air mata penyesalan dari pihak keluarga, Tunggu Aku Sukses Nanti bukanlah jawabannya. Alih-alih menyajikan kisah kepahlawanan anak muda yang tertindas, film ini ternyata adalah perjalanan ‘pencucian dosa’ seorang protagonis yang perlahan berubah menjadi antagonis akibat ilusi dendamnya sendiri.

Saya baru saja menyelesaikan film Tunggu Aku Sukses Nanti. Film yang trailer-nya membuat netizen merasa related dengan kehidupannya. Tanggapan positif ini pun terbukti dengan ramainya penonton di hari ketiga Lebaran Idulfitri 2026.

Film ini dibuat dan tayang untuk menemani libur Lebaran masyarakat Indonesia. Adegan terakhir film pun berakhir di Lebaran 2026. Jadi memang film ini sengaja dibuat untuk libur Lebaran 2026.

Pemilihan libur Lebaran sepertinya bukan hanya karena plot cerita yang dimulai dan berakhir di Lebaran. Lebih dari itu, pesan yang disampaikan pun mengajak penonton untuk memaafkan dan melupakan amarah dan dendam masa lalu.

Cerita yang dibangun bukan sekadar cerita anak muda yang berjuang sendiri, tapi juga tentang nilai kehidupan orang-orang di sekitarnya. Ini juga jadi plot twist-nya yang mungkin hampir semua penonton tidak menyangkanya.

Secara singkat film ini bercerita tentang kehidupan seorang anak dari tahun ke tahun. Mulai dari umurnya enam tahun hingga sekitar 29 tahun. Namanya Arga, anak sulung dari orang tua sederhana yang terlibat konflik batin dengan keluarga besarnya.

Konfliknya adalah pertanyaan-pertanyaan horor saat Lebaran. Mulai dari pekerjaan, hubungan, gaji, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan horor ini yang akan menjadi pijakan konflik.

Dirinya terlibat dalam pergolakan untuk membuktikan dan menjawab pertanyaan itu. Konflik cerita pun akan muncul di setiap Lebaran, di saat pertanyaan itu kembali terucap dan berkembang menjadi semakin menyeramkan.

Arga yang selalu gagal dalam hidupnya harus menanggung malu dan cercaan dari keluarganya. Dia pun berusaha untuk mendapatkan pekerjaan dan uang sebanyak-banyaknya untuk melawan ketidakadilan itu. Namun dalam pencarian itu dia justru gagal melawan musuh terbesarnya.

Musuh terbesarnya bukan orang tuanya, keluarga besarnya, pacarnya, atau teman-temannya. Dia gagal melawan dirinya sendiri. Melawan keegoisan untuk mendapatkan segala hal hanya untuk membalas dendam.

Pada akhirnya kegagalan itu yang membawanya pada penyesalan. Walau akhirnya mendapatkan pekerjaan, pacar, dan uang yang banyak, namun semua itu tidak cukup untuk membungkam mulut keluarga besarnya.

Arga yang marah akan hal itu kemudian menjadi hilang akal dengan memarahi balik keluarganya. Emosinya pun merembet ke semua orang termasuk pacar dan sahabatnya. Pada titik itu dia pun gagal dan kehilangan banyak hal.

Saya sendiri melihat film ini seakan menempatkan Arga bukan sebagai pemeran utama yang protagonis, tapi justru antagonis. Film ini merupakan perjalanan pencucian dosa Arga dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Arga dihajar dengan berbagai cobaan bukan untuk menunjukkan dia baik, tapi justru mengajarkannya melepaskan kendali orang lain atas dirinya. Karena dalam perjalanan hidupnya dia menjadi dendam terhadap keluarganya selain karena perilaku keluarganya yang menggurui tapi juga karena dirinya tidak menghargai perjuangannya sendiri.

Contohnya Tante Yuli yang selama ini dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas dendam kesumatnya ternyata hanya orang baik yang cerewet. Semua pemikiran jahat tentangnya yang ada di pikiran Arga pun tidak terbukti. Arga terlalu larut dalam emosi sampai lupa pesan yang disampaikan.

Namun apakah Arga benar-benar salah? Tentu tidak, karena sepanjang film adegan-adegan dan dialog keluarga besarnya memang begitu menyakitkan. Saya pernah mendengar dan merasakan hal serupa. Tapi lagi-lagi bagi saya ini bukan soal ucapan menyakitkan, tapi pengendalian diri.

Ini bisa tergambar dari plot twist yang terjadi. Bukan untuk memenuhi hasrat penonton atau Arga itu sendiri: dia menjadi kaya dan menindas balik keluarganya. Plot twist-nya ternyata Arga dibanting dengan kenyataan bahwa orang-orang di sekitarnya peduli dengan dia, hanya saja dia yang tidak bisa melihatnya dengan jernih.

Pada akhirnya film ini tidak akan menyejukkan hati penonton yang terpana dengan trailer-nya yang menyedihkan. Film ini hanya ingin mengajarkan kita melawan musuh terbesar setiap jiwa yang hidup yaitu diri sendiri. Kita diajarkan di hari raya Idulfitri bukan hanya sekadar memaafkan orang lain, namun juga memaafkan diri sendiri atas semua prasangka dan tuduhan yang menyesatkan. (*)