Tinggal di Bogor membuat saya tidak terbiasa dengan cuaca panas. Ini seakan mengkhianati asal usul.
Saya sudah tinggal di Bogor dua tahun lima bulan. Walau tidak begitu lama, saya sudah menyesuaikan dengan keadaan. Terutama cuaca dingin yang terjadi di sepanjang tahun.
Bogor memang dingin, terkadang dingin banget. Julukan Kota Hujan memang pantas disematkan karena cuaca dingin ini berasal dari hujan yang turun hampir tiap hari. Penyebab hujan turun tiap hari karena Bogor terletak di tengah dua gunung: Salak dan Gede.
Bogor sebenarnya terbagi atas dua wilayah, yaitu Kabupaten Bogor dan Kota Bogor. Apakah julukan kota hujan ini disematkan ke keduanya? Bagi saya bisa iya, bisa tidak.
Tidak, karena keduanya memang sering hujan, namun terkhusus di Kabupaten Bogor, di beberapa daerah tidak sedingin Kota Bogor, seperti di daerah utara yang berbatasan langsung dengan Depok, Bekasi, ataupun Tangerang. Iya, karena Bogor Raya itu tipe wilayah satu musim sehingga walau masuk kemarau di Indonesia, Bogor tetap bisa diguyur hujan atau seakan tidak masuk kemarau.
Cuaca semusim ini pun memengaruhi tidak hanya kondisi geografi yang sejuk, manusianya pun menjadi tidak terbiasa dengan cuaca panas. Walaupun baru beberapa tahun, air Bogor sudah membuat saya anti panas. Jadi, tidak terbiasa saat cuaca panas.
Ini terbukti saat saya kembali ke Banggai akhir tahun 2025 kemarin, saya seakan begitu kepanasan saat terkena cuaca di Palu ataupun di Banggai. Padahal saya berasal dari Banggai, kulit pun gelap karena sehari-hari berteman akrab dengan matahari, tapi kondisi berbalik setelah tinggal di Bogor.
Menetap di Kota Hujan ini memang begitu nyaman karena tidak perlu berteman akrab dengan matahari yang menusuk kulit dan mengubah warnanya. Kita hanya perlu terbiasa berteman dengan hujan yang siap membasahi badan setiap hari.
Bila ditanya mana yang lebih baik? Jujur saja saya sebenarnya lebih suka cuaca sejuk dengan tidak ada matahari ataupun hujan. Karena keduanya sama saja merepotkan.
Saat ini cuaca panas pun mulai terasa mengganggu di Bogor. Entah mengapa Bogor lagi panas tidak seperti biasa. Bahkan, ini rasa panas yang pertama kali dirasakan begitu menyengat selama tinggal di Bogor.
Kondisi ini pun kembali menjadi masalah bagi saya. Kemampuan bertahan di teriknya matahari sudah tidak lagi saya miliki, jadi saat terkena terasa begitu perih. Sungguh tragis ya bagi anak pesisir seperti saya.
Kulit tangan saya bahkan bisa lebih cepat menghitam dibandingkan saat masih di Makassar. Di sana cuacanya begitu panas sampai kelopak mata pedih rasanya, tapi saya bisa menikmatinya.
Kini tameng panas itu tampaknya tidak saya miliki. Kepanasan menjadi rasa sakit dan cepat mengubah warna kulit. Cukup menyedihkan ya!
*Kampung Kukupu, Tanah Sareal
