Bagaimana kegagalan yang sudah terjadi atau yang mungkin terjadi menyiapkan Anda untuk keberhasilan di kemudian hari?

Keberhasilan memang tidak selalu hadir dalam kehidupan saya. Tapi kegagalan selalu menjadi pembelajaran yang paling berharga.

Sejak kecil saya selalu punya masalah dengan kehidupan. Tidak pernah benar-benar tenang dengan keadaan. Setidaknya dalam rentang waktu yang ada saya sepertinya lebih banyak jadi korban dibanding pelaku.

Saya tidak bisa menyebut masalah itu dengan kebenaran karena sesungguhnya walau saya benar tapi saya jadi korban. Jadi lebih baik kita sebut saja sebagai kegagalan.

Ada beberapa kegagalan yang melanda hidup. Saya hanya menuliskannya beberapa saja yang masih tertanam di dalam ingatan.

Pertama, saya pernah menjadi korban pembacokan yang salah sasaran. Sebenarnya tidak sedramatis yang ada di pikiran, saya saat itu ingin bermain dengan teman lain. Saat itu saya mungkin baru berumur 7 tahun.

Permainannya adalah memutar-mutar badan sambil memegang parang. Aneh bukan? Tapi itu memang terjadi. Saat itu katanya parang tumpul jadi tidak bisa melukai.

Namun saat saya mendekat, orang yang memegang parang itu turut mendekat alhasil saya terkena di pelipis dan harus dilarikan ke rumah sakit. Saya dijahit entah berapa jahitan tapi saat itu menjadi kegagalan yang membuat saya belajar untuk lebih waspada dan berhati-hati.

Kedua, saat SD saya sering jadi korban bullying. Ini dilakukan oleh orang lain yang seangkatan dengan saya. Kakak sepupu saya yang kemudian menjadi hero untuk menyelamatkan saya.

Di kemudian hari saya beberapa kali bertemu kembali dengan orang yang mem-bully saya tapi saya tidak membalasnya. Kegagalan itu membawa perubahan ke saya untuk menjadi lebih tidak takut kalau ditindas dan jangan menindas karena dua hal itu tidak enak.

Ketiga, saya pernah menjadi korban pemukulan akibat hubungan asmara dengan anak sekolah lain. Saya beberapa kali menjadi korban pengeroyokan. Sampai-sampai masalah ini masuk ke kepolisian walaupun tidak sampai penangkapan.

Proses kasus ini cukup panjang. Bikin heboh sekolah karena melibatkan dua sekolah dan kejadiannya di dalam sekolah. Saya harus bolak-balik ke kantor kepsek dan hampir terancam dikeluarkan.

Kasus ini menjadi pembelajaran penting bagi saya. Saya merasa gagal menjadi manusia yang tidak mau ditindas karena tidak melawan saat dipukul. Tapi di satu sisi saya belajar untuk menahan amarah dan menyelesaikan segala hal dengan kepala dingin.

Keempat, yaitu saat saya harus kuliah lima tahun. Saya sarjana yang selesai molor setahun. Sebenarnya alasannya karena saya sempat kerja hampir setahun, jadi saya tidak kepikiran untuk selesai.

Namun tetap saja di kemudian hari saya kepikiran kenapa tidak selesai lebih cepat. Bukannya bisa mendapatkan kesempatan lebih besar dibandingkan saat kuliah lima tahun.

Namun segala takdir Allah SWT selalu ada hikmahnya, ya. Saya setidaknya tetap berhasil ke Jawa untuk mencari pekerjaan dan menetap. Ini pelajaran penting saya untuk tidak meremehkan waktu dan tidak menyia-nyiakannya.

Pada akhirnya berbagai kegagalan ini yang kemudian membentuk saya hari ini. Saya tidak punya kemampuan untuk melihat masa depan. Tapi saya yakin semua kegagalan itu bisa membawa saya ke kesuksesan.

Kenapa? Karena saya tidak berhenti untuk belajar dari kegagalan. Saya tidak menghindar dari kegagalan yang sudah menjadi takdir.

Saya semakin ke sini belajar untuk berjalan dengan takdir yang diberikan dan menjadikannya pelajaran baik itu berhasil ataupun gagal.

Pada akhirnya kesuksesan yang akan diraih di masa depan bukan berasal dari keberhasilan yang diulang-ulang, melainkan dari kegagalan yang diperbaiki dan tidak membuat kita berhenti maju. (*)