Apa minuman favorit Anda?
Saya tidak tahu persis apa yang terjadi pada tubuh saya saat ini. Tapi, saya merasa sudah resmi masuk ke fase “remaja jompo”.
Istilah remaja jompo sebenarnya bukan hal asing bagi saya. Terutama sejak masuk ke dunia kerja pada tahun 2023 silam, saya merasa tanda-tandanya mulai bermunculan.
Salah satu hal yang paling menonjol adalah kesadaran untuk menjaga pola hidup. Memang belum sehat-sehat amat, tapi paling tidak saya sudah mulai mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang terlalu manis, asin, atau pedas.
Perubahan paling signifikan ada pada pilihan minuman. Saya tidak lagi menyentuh minuman kemasan yang manis seperti Fanta, sirup, dan sejenisnya. Entah kenapa, belakangan ini otomatis jadi bosan dan kehilangan selera untuk minum yang manis-manis.
Mengganti jenis minuman memang menjadi cara paling mudah bagi saya untuk memulai pola hidup sehat. Saat ini, saya jauh lebih tertarik minum air mineral dibanding minuman kemasan beraneka rasa.
Bahkan saat jajan di luar, saya lebih memilih es teh tawar ketimbang es teh manis. Peralihan gaya hidup ini mungkin terasa seperti anomali.
Kalau dipikir-pikir, saya kan masih muda, harusnya masih bisa bebas menikmati minuman manis. Tapi anehnya kok malah begini.
Meski begitu, di sisi lain saya merasa lega karena sudah punya kesadaran menjaga kesehatan sejak dini. Perubahan ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Alasan terbesarnya adalah: saya takut terkena diabetes.
Setahu saya, diabetes bisa menyerang usia berapa pun, makanya saya ngeri sekali dengan penyakit itu. Ketakutan ini makin menjadi saat saya tahu bahwa ayah saya punya riwayat penyakit yang sama.
Saya ingat pernah melihat iklan kesehatan yang menyebutkan bahwa keturunan penderita diabetes memiliki peluang lebih besar untuk mewarisi penyakit tersebut.
Takut hal itu terjadi pada saya, akhirnya saya memutuskan untuk lebih mawas diri. Salah satu langkah konkretnya ya itu tadi, mengganti minuman manis dengan air putih.
Penyakit diabetes memang menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Saya sering mendengar cerita atau melihat video tentang bagian tubuh penderita yang harus diamputasi karena membusuk akibat luka diabetes.
Saya sangat takut itu terjadi pada saya di kemudian hari. Makanya, menjaga gaya hidup adalah tameng terbaik saat ini.
Hanya saja, perjuangannya belum selesai. Walaupun sudah berhasil menghindari minuman manis, saya masih kesulitan menahan godaan makanan yang mengandung gula.
Kalau sekadar donat atau makanan yang pakai gula langsung, mungkin masih bisa ditahan. Tapi ini nasi putih, makanan pokok yang secara alami tinggi glukosa. Rasanya sulit sekali menghindarinya.
Ini tentu menjadi kabar buruk sekaligus baik. Kabar buruknya, peluang terkena diabetes tetap mengintai lewat asupan gula dari nasi.
Kabar baiknya, setidaknya tubuh saya masih mendapatkan asupan karbohidrat dan gula yang cukup untuk tenaga. Namun, kalau ditimbang-timbang, sepertinya dampak buruknya masih lebih besar.
Apalagi saat ini, ancaman obesitas mulai menyerang saya. Mau tidak mau, saya harus berjuang lebih keras untuk menjaga pola makan.
Terkadang, saya berharap ada ketakutan baru yang muncul sebagai pemacu agar saya lebih disiplin diet. Entah ketakutan seperti apa, saya belum tahu. Tapi mudah-mudahan, tegurannya nanti tidak terlalu menakutkan. (*)
