Tuliskan tentang rumah impian Anda.

Sejak dulu, saya punya impian memiliki rumah di desa. Rumah yang bisa menghidupi keseharian tanpa perlu banyak uang.

Impian ini masih saya rawat hingga saat ini. Bagi saya, ini merupakan sesuatu yang bisa diwujudkan di kemudian hari. Sulit, iya, tapi bukan berarti tidak bisa.

Kemampuan saya saat ini memang belum cukup untuk membeli rumah yang diinginkan. Namun, tak ada salahnya merancangnya sejak dini—sejak dalam pikiran dan ilustrasi tulisan.

Kenapa saya menginginkan rumah di desa? Jawabannya sederhana: saya mau menikmati ketenangan yang tidak bisa didapatkan di kota. Saat kecil, saya tinggal di desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Saya ingin mewujudkan suasana itu kembali saat punya rumah sendiri.

Karena kondisi saat ini tinggal di Bogor, saya menginginkan rumah itu berada di salah satu desa di Bogor. Desa yang masih asri, namun tak jauh dari akses tol. Agaknya, hal tersebut masih mungkin untuk diwujudkan.

Rumah di pedesaan Bogor masih relatif murah, belum semahal di Jakarta. Bahkan, harganya lebih murah dibandingkan di Banggai (kampung halaman saya). Memang kedengarannya tidak masuk akal, tapi begitulah kenyataannya.

Saya juga ingin punya tetangga yang saling tolong-menolong dalam kehidupan. Saya rasa, dengan hidup di desa, saya bisa mendapatkan hal itu. Walaupun pendatang, saya mau membantu dan dibantu mereka untuk menjalani sisa hidup.

Soal ukuran rumah? Saya membayangkan punya rumah yang bisa memenuhi kebutuhan dasar saya sebagai manusia. Punya kebun mini, kolam ikan, dan sebagainya.

Saya tidak butuh rumah yang sebesar dan semegah rumah orang kaya, tetapi lebih ke arah ekosistem yang mandiri.
Kebutuhan dapur bisa disediakan dari kebun dan kolam mini yang ada di halaman.

Ruang-ruangnya cukup untuk berinteraksi dengan keluarga. Ditambah lagi, ada bangunan yang bisa dipakai untuk membantu warga desa berkembang.

Iya, saya kepikiran untuk membuat semacam komunitas di tempat itu. Saya mau di situ saya bisa membantu dan dibantu untuk berkembang sebagai manusia yang mapan.

Rancangan besar ini mungkin belum tahu kapan bisa diwujudkan, tapi setidaknya saya tidak akan kaget nantinya. Siapa yang tahu kalau ini bisa terwujud dalam waktu dekat? Kan? (*)

*Fikri Rahmat Utama