Membaca buku Hidup Bersama Laut karya Safar Nurhan membuat saya merasa “pulang” ke kampung halaman. Barangkali, mendekatkan yang jauh inilah yang menjadi alasan buku ini diterbitkan.
Karya ketiga Safar ini merupakan kumpulan pemikirannya soal kehidupan di laut dengan segala suka dukanya. Saya cukup antusias membacanya karena latar belakang beberapa lokasinya sama dengan kampung saya: Banggai Laut.
Isi bukunya sesuai ekspektasi. Sebelumnya, saat membaca buku keduanya, Sapa Bilang Pelaut Mata Keranjang, saya tidak kecewa.
Saya menilai kedua buku ini bukan sekadar dari teknis penulisan, tapi dari kedekatan emosional cerita yang diangkat. Bagi saya, walau satu berbentuk esai dan satunya novel, kedua buku ini mengangkat hal yang sama: merawat ingatan masa kecil.
Beberapa kisah yang diangkat terasa dekat karena merupakan pengalaman, penglihatan, atau imajinasi yang dahulu juga saya bangun. Membaca buku ini seakan mewujudkan pikiran-pikiran abstrak yang selama ini saya miliki.
Rasanya saya tak perlu lagi bersusah payah mencari definisi, karena Safar telah menuliskannya dengan gamblang. Tulisan ini memvalidasi apa yang saya rasakan.
Ambil contoh di Hidup Bersama Laut yang terbagi dalam 14 esai. Bahasan soal Suku Bajo, gempa bumi, hingga kebiasaan membuang sampah ke laut, bukan hanya dialami oleh Safar, tapi saya pun demikian.
Bedanya, saya hanya menyimpan itu sebagai ingatan, sementara Safar meriset dan menuliskannya lebih dalam. Saya curiga, motif penulis adalah kerinduan akan kampung halaman.
Kondisi rantau yang jauh membuatnya menulis agar jiwa tetap merasa dekat. Pikiran soal kampung halaman memang selalu tumbuh subur dalam kepala perantau. Sekali lagi, saya merasa dekat dengan ini.
Jujur saja, saya bukan orang Bajo atau orang yang hidup begitu intens dengan laut. Kehidupan laut saya tidak seheroik cerita Safar yang sepertinya bergerak sedikit saja maka laut akan menjadi topiknya.
Saya tidak begitu pandai berenang, memancing, memanah ikan, atau mengendarai bodi di lautan lepas. Saya hanyalah manusia pesisir yang “sekadar tahu”, tapi tidak jago.
Namun, justru ketidakjagoan itulah yang membuat saya bersemangat membaca buku ini. Sebab, kehidupan saya dikelilingi oleh subjek-subjek dalam buku ini. Ayah angkat saya orang Bajo, begitu pun tetangga saya.
Kedekatan itu makin terasa saat Safar membahas kearifan lokal masyarakat Bugis. Safar mengulas bagaimana pelaut Bugis membagi kalender kerja mereka berdasarkan Musim Barat dan Musim Timur.
Ayah saya juga seorang pelaut Bugis pernah menceritakan hal serupa. Bahwa Musim Barat adalah momok; ombaknya ganas dan tak ramah bagi perahu kecil, sehingga tak disarankan melaut.
Safar menuliskannya dengan detail yang presisi. Walaupun Ayah saya tidak menjabarkannya sedetail buku ini, tapi gambaran besarnya sama. Membaca bagian ini seperti mendengar kembali petuah Ayah di masa lalu.
Lebih dari itu, saya juga punya keresahan yang sama sebagai perantau. Safar menggugat istilah “Indonesia Timur” yang digunakan untuk melabeli masyarakat Sulawesi hingga Papua. Saya mengamininya.
Istilah “Indonesia Timur” ini seolah produk cara pandang orang Jawa yang tidak mau repot-repot menghafal nama daerah. Akibatnya, saat memperkenalkan diri, identitas kita seakan disapu rata. Entah dari Banggai, Makassar, atau Taliabu, kita tetap dianggap satu paket “Indonesia Timur” dengan stigma “Sumber air su dekat”.
Buku ini memang sesuai dengan sinopsis di sampul belakang: mencoba memberikan pengalaman soal laut yang apa adanya. Narasi yang selama ini dibangun soal masyarakat pesisir seringkali dikerdilkan, hanya sebatas keindahan pantai dan kulit yang terbakar matahari.
Padahal, laut seharusnya menjadi entitas paling jujur di dunia. Ia ada di mana-mana tanpa harus bersembunyi.
Maka, cara kita memandangnya pun harus jujur. Kita tidak bisa melihat laut dengan kacamata orang pegunungan, karena laut punya cakrawala yang jauh lebih luas dari itu. (*)
…
Kenangan
- Minggu lalu saya harus mengganti busi motor setelah motor brebet-brebet hingga mati. Namun sayangnya brebet-brebet hingga saat ini masih terjadi di motor saya.
- Bulan lalu saat mengikuti pelatihan Jurnalisme Inspiratif CIMB Niaga saya mendapatkan hadiah door price tablet. Hadiah yang melengkapi dua juara yang saya dapatkan sebelumnya.
- Pergantian tahun baru 2023 ke 2024 saya lewati dengan liputan di Kemang Kabupaten Bogor. Liputan di rumah salah satu calon legislatif yang menggelar doa bersama. Selepas itu saya pulang dan melipir di ujung Jalan Bojonggede-Kemang (Bomang) untuk menyaksikan kembang api tanda tahun berganti.
