Saya kini memiliki pemikiran yang agak terbalik dibanding kebanyakan orang. Saya justru lebih senang liburan ke Jakarta ketimbang ke pedesaan Bogor.

Setelah cukup lama menunggu penugasan ke Jakarta, tugas mulia itu akhirnya kembali terwujud. Saya ditugaskan meliput salah satu konferensi pers kementerian di Jakarta. Bagi saya, ini bukan sekadar tugas, melainkan sekaligus liburan.

Saya menyebutnya liburan karena selama bekerja di Bogor, saya jarang beraktivitas di Jakarta. Hanya pada momen-momen tertentu saya bisa ke sana. Dalam perjalanannya, momen-momen itu justru lebih menjawab kebutuhan liburan ketimbang sekadar pekerjaan.

Dari situ saya semakin yakin: ke Jakarta, bagi orang Bogor seperti saya, layak dipandang sebagai liburan. Menikmati city light, gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan, tempat wisata di tengah kota, hingga Pantai Ancol—yang lebih menyerupai taman bermain air ketimbang pantai alam—semuanya memberi sensasi tersendiri.

Bukan hanya soal aktivitas santai. Melihat para pekerja yang lalu lalang, berdempetan, dan tetap bekerja hingga larut malam juga menjadi pemandangan yang menarik. Jika tempat wisata menghilangkan penat, menyaksikan denyut kehidupan warga kota justru terasa meningkatkan motivasi hidup.

Kesadaran ini makin kuat ketika saya menonton siniar Dahlan Iskan di Beginu. Ia menyebut memiliki dua jenis liburan: ke Amerika Serikat dan ke Cina. Ke AS untuk belanja ide, ke Cina untuk belanja semangat.

Saya ingin menjalani konsep itu juga. Namun karena belum ada modal ke dua negara tersebut, saya membuat versinya sendiri: ke pedesaan Bogor dan ke Jakarta.

Saya bahkan membaginya menjadi tiga jenis, bukan dua. Ke Jakarta untuk belanja ide dan semangat, lalu ke pedesaan Bogor untuk belanja mental atau jiwa.

Jakarta, seperti yang saya rasakan, memiliki kelengkapan sebagai pelajaran hidup. Di sana kita melihat semangat kerja yang seakan tak pernah padam selama 24 jam, sekaligus ide-ide yang berhamburan di setiap sudut kota. Bogor berbeda. Kehidupan pedesaannya, dengan alam yang masih relatif asri, membantu meredakan stres yang mengganggu jiwa dan mental.

Sayangnya, metode ini belum saya jalani dengan konsisten. Selama dua tahun lebih bekerja di sini, saya baru melakukannya beberapa kali.

Mungkin itu pula yang membuat hidup saya masih terasa tapuraca. Di tahun 2026, dengan menuliskannya, saya ingin mulai mencoba menjalani pola liburan ini secara rutin.

Saya ingin membuktikan apakah akan ada perubahan dalam diri jika metode ini benar-benar dijalani. Menurut saya, selama ini liburan kerap dikonotasikan sebagai jeda dari kesibukan duniawi.

Namun bagi warga kota, definisi itu bergeser: liburan adalah upaya menyegarkan pikiran, hati, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan ke depan. (*)

*Kota Bogor, 6 Januari 2026