Tahun 2026 menjadi arena perang terbuka bagi saya. Saya menantang diri agar tidak tergerus kepandaian AI.
Bagi saya, bertanya kepada AI—atau akal imitasi—adalah jalan baru menuju pengetahuan. Kini, belajar tak perlu lagi jauh-jauh atau mahal-mahal. Setidaknya, dengan AI kita bisa mendapatkan semacam mini course yang cukup aplikatif.
Itu pula yang saya rasakan selama hampir satu tahun menggunakan AI. Kehadirannya sangat membantu menyelesaikan pekerjaan, terutama di bidang penulisan yang saya geluti. Namun, tetap ada harga yang harus dibayar: keterampilan menulis perlahan terkikis.
Tahun ini saya mencoba cara baru untuk melawan dominasi itu. Selain berusaha mengendalikan AI dengan sebaik dan sebijak mungkin, saya juga mencoba mengendalikan diri dari hawa nafsu—nafsu untuk cepat puas dengan hasil AI, hingga merasa tak perlu lagi menulis sendiri.
Semakin jauh peradaban berkembang, bagi saya dunia menulis justru menjadi salah satu yang paling terancam oleh AI. Sebab, kemampuan paling dasar yang dimiliki AI adalah menulis.
Karena itu, saya tidak ingin menjadi bagian dari mereka yang jatuh ke jurang kebodohan akibat salah menggunakan AI. (*)
Perang Terbuka
