Akhir pekan ini saya habiskan berdua dengan istri di pinggir danau. Walau jauh dari pesisir, pembicaraan yang hadir di antara kami ternyata soal laut lepas.

Saya hidup belasan tahun di pesisir pantai. Menjadi “manusia pesisir” membuat hidup tak pernah jauh dari aroma asin air laut.

Contoh sederhananya: saya hanya makan ayam dua kali dalam setahun (saat Idul Fitri dan Idul Adha). Sisanya? Ikan, cumi, udang adalah santapan harian.

Kehidupan pesisir itulah yang, secara tak sadar, membentuk mental saya menjadi seorang perantau. Walaupun skill bertahan hidup saya mungkin tak seandal perantau lain, tapi setidaknya jarak rantauan saya lumayan jauh. Ini selayaknya jejak para nenek moyang kita dulu yang nekat melaut, bahkan konon sampai menyentuh pesisir pantai Utara Australia.

Namun, di perantauan ini saya tidak menemukan kehidupan pesisir. Saya justru tinggal di pegunungan, dikelilingi dua gunung besar yang mengirim hujan dan hawa dingin sepanjang tahun. Jarak ke pantai terdekat mungkin 80 kilometer.

Betul, Bogor. Saya tinggal di sini sudah dua tahun lebih. Mau tidak mau, saya harus beradaptasi. Saya bisa beradaptasi dengan cuacanya, tapi jujur, sulit berdamai dengan makanannya.

Ikan, cumi, dan udang di sini tak sesegar kepunyaan daerah pesisir. Entah dari mana asalnya—mungkin Banten atau Jakarta Utara—tapi membandingkannya dengan standar ikan di Banggai sana adalah sebuah kesalahan.

Di sini matanya keruh dan dagingnya lembek, beda dengan ikan di Banggai yang matanya masih bening memantulkan cahaya dan dagingnya manis. Rasanya beda, manisnya hilang.

Namun, ada satu tempat yang sedikit mengobati rindu. Tempat itu adalah Situ Gede, sebuah danau di pinggiran Kota Bogor.

Danau seluas 10 hektar ini menjadi satu-satunya pelarian. Angin sepoi-sepoi dan bentangan air yang luas seakan mampu mengamuflase mata dan perasaan. Saya merasakan sensasinya, tapi baru benar-benar menyadarinya saat Ibu mengirim pesan.

Saat saya mengunggah foto istri di tepi danau ke Story WhatsApp, Ibu membalas: “Lagi di pantai mana itu?”

Saya tersenyum. Awalnya bingung, tapi kemudian sadar. Oh iya, sekilas danau ini memang mirip pantai. Bedanya, ia dikelilingi tanggul beton, bukan pasir putih. Tapi suasananya cukup untuk menipu mata orang pesisir sekelas Ibu saya.

Obrolan dengan istri pun menjalar ke hal lain. Mulai dari bebek-bebekan sewaan (yang di kampung kami adanya di laut), hingga refleksi diri yang agak menohok.

Ternyata, walau lahir di pulau, saya minim skill anak pantai. Saya tidak pandai memancing, tidak bisa memanah ikan, apalagi mengendarai speed boat.

Saya jadi teringat Bapak, seorang pelaut andal cum nelayan pensiun. Keahlian melautnya yang legendaris itu sayangnya berhenti di beliau, tak sempat turun ke saya.

Saya hanya mewarisi kemampuan berenang, mendayung sedikit, dan makan ikan banyak. Oh iya, satu lagi: saya tahan mabuk laut.

Kini, di tengah dinginnya Bogor, muncul keinginan aneh untuk mengasah kembali kemampuan itu. Mungkin mulai dari memancing ikan di danau ini.

Siapa tahu, ini persiapan kalau kelak nasib membawa saya kembali ke pesisir. Bahkan, saya sempat bercanda ke istri ingin jadi pengusaha kapal—cita-cita yang belum sempat dicapai Bapak.

Mungkin ini hanya emosi sesaat karena terlalu antusias. Tapi siapa tahu? Mungkin saja saya bisa menjadi the next Susi Pudjiastuti, versi laki-laki dan versi danau. (*)

*Kota Bogor, 4 Januari 2026