Digitalisasi membuat perlengkapan pos makin terpinggirkan. Namun di Kota Bogor, ada yang tetap bertahan: mereka dengan kini menyimpan kenangan dengan bertahan menjajakannya.

Di sudut kanan Kantor Pos Jalan Juanda, Kota Bogor, meja kayu berukuran sedang masih setia menampung tumpukan map lusuh, segel tanah, amplop, hingga kartu pos lawas. Dari kejauhan, dagangan itu mungkin tampak tak bernilai di era serba digital. Namun bagi Endang Jumiati (66), barang-barang itu bukan sekadar kertas atau stempel, melainkan sejarah hidup yang membesarkan keluarganya.

Endang sudah berjualan di kawasan Kantor Pos sejak 1984. Di masa jayanya, ia bahkan dijuluki “Raja Perlengkapan Pos” oleh sesama pedagang.

Sebab, hampir semua kebutuhan masyarakat terkait pos dan administrasi bisa ditemukan di lapaknya: mulai dari akta jual beli, kartu lebaran, kertas bermeterai, hingga segel tanah berbagai tahun.

“Semua orang kalau butuh apa-apa, larinya ke saya. Dulu setiap bulan orang beli banyak. Ramai sekali,” kenangnya saat disambangi Radar Bogor, Kamis (21/8/2025).

Hasil berjualan perlengkapan pos membuat hidup Endang dan keluarganya cukup terjamin. Dari lapak kecil itulah ia bisa menyekolahkan anak-anak hingga kuliah, bahkan membeli sebidang sawah.

“Alhamdulillah, semua dari sini. Bisa cukup buat makan, nyekolahin anak, sampai punya sawah. Itu semua berkat dagangan pos,” katanya dengan mata berbinar.

Tahun 1980-an hingga awal 2000-an adalah masa keemasan para penjual perlengkapan pos di Bogor. Lapak mereka selalu ramai didatangi orang yang hendak mengurus surat, perjanjian, maupun sekadar mengirim kartu lebaran. Tak jarang antrean mengular hingga ke luar kantor pos.

Namun, situasi berubah drastis sejak 2009. Kehadiran ponsel pintar membuat kebutuhan akan perlengkapan pos menurun tajam.

“Mulai sepi sejak ada HP. Orang lebih gampang pakai gawai. Sekarang sehari paling dapat Rp150–200 ribu, itu pun kalau ada yang beli. Kadang kosong sama sekali,” ujar Endang.

Meski demikian, ia tak pernah berpikir untuk menutup lapaknya. Meski usia menua dan pembeli kian jarang, ia memilih tetap berjualan.

“Daripada di rumah saja, mending di sini. Masih ada orang yang cari segel tanah atau akta jual beli. Belum kiamat, masih ada rezeki,” ujarnya mantap.

Uniknya, saat pandemi COVID-19 melanda, dagangan Endang justru sedikit menggeliat. Banyak orang kembali mencari perlengkapan pos untuk urusan resmi, terutama terkait bantuan dan dokumen administrasi.

“Waktu corona malah agak rame, lebih baik dari sekarang. Sekarang malah sepi lagi,” katanya.

Kini, di usia yang tak muda, Endang masih setia menjaga lapak. Ia berdagang bersama dua orang rekannya yang juga sudah lanjut usia. Barang dagangannya sebagian besar ia ambil dari Jakarta.

“Masih ada yang jual di sana. Saya ambil, lalu saya jual di sini. Walaupun jarang, tapi masih ada yang beli,” ujarnya.

Kisah serupa datang dari Munir, pedagang kartu pos yang kini beralih menjadi tukang parkir. Sejak 1992, ia menggantungkan hidup dari menjual kartu pos bergambar pemandangan Bogor, wayang golek, hingga ucapan hari raya. Pasarnya adalah turis, terutama dari Belanda, yang menjadikan kartu pos sebagai cenderamata sekaligus sarana berkirim kabar.

“Dulu sehari bisa laku empat sampai enam poskar. Harganya Rp5 ribu per lembar. Bisa dapat Rp200–300 ribu sehari. Dari situ anak-anak bisa sekolah, ada yang kuliah di IPB. Alhamdulillah,” kenangnya.

Namun, sejak 2010, permintaan kartu pos menurun drastis. Wisatawan asing dan lokal lebih memilih mengirim kabar lewat WhatsApp atau media sosial. Kini, kartu pos hanya laku jika ada kolektor yang sengaja mencarinya.

“Paling dua minggu sekali, sebulan sekali ada yang beli. Kalau enggak dirayu dulu juga enggak mau,” kata Munir sambil tertawa kecil.

Tak ingin kalah dengan keadaan, Munir akhirnya banting setir menjadi tukang parkir. Meski begitu, ia masih menyimpan segelintir kartu pos lawas di rumahnya, sebagai pengingat masa kejayaan.

Kisah Endang dan Munir adalah potret kecil dari perubahan zaman di Kota Bogor. Mereka adalah saksi hidup transformasi komunikasi: dari kertas dan tinta, ke layar dan internet.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, lapak mereka memang kian sepi. Namun ada satu hal yang membuat keduanya tetap bertahan: konsistensi. Bagi mereka, selama masih ada orang yang mencari segel tanah atau kartu pos, kios kecil itu tak akan pernah benar-benar mati.

“Namanya usaha, ada masa rame, ada masa sepi. Yang penting kita terus jalanin. Rezeki Allah yang atur,” ujar Endang menutup percakapan. (*)

*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor