Saya tak pernah menyangka kini menjadi gerombolan pengemis waktu luang yang sering dijumpai di desa-desa. Menyusuri perkampungan dengan konvoi ala-ala orang penting.
Perjalanan waktu yang ketika sekolah selalu dieja kini berubah menjadi hafalan yang begitu cepat berlalu. Bahkan saya sendiri tidak begitu cukup merasakan sensasinya.
Kehidupan dewasa yang dicap problematik masuk begitu saja, mungkin ini yang disebut dewasa dengan segala ihwalnya. Walaupun tak terasa namun kata orang yang namanya berat memang terasa saat diujung tanduk, apa iya?
Saya juga tergelitik saat mendengar ternyata anak SMA saat ini sudah berbeda 10 tahun dari umur saya. Ketidakpercayaan ini harus ditelan mentah-mentah karena realitanya memang begitu.
Menua ternyata bukan hanya soal melihat muka yang semakin tua. Umur yang berjalan terus ke depan juga menjadi tolok ukur yang mungkin tidak terasa tapi tak bisa dipungkiri.
Sebenarnya ketidakmauan ketuaan yang saya alami bukan saja soal umur atau wajah semata. Tetapi saya juga tidak menyangka ternyata perjalanan tua saya adalah serupa dengan cerita sebelum tidur yang dilantunkan ayah-ibu.
Soal mereka yang beranjak ke kota setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas. Kemudian berkembang menjadi manusia kota dengan segala lika-likunya.
Saya tidak membayangkan hal itu karena tempat saya yang jauh di sana membuat ekpektasi untuk menjadi orang kota tidaklah besar. Saya dulunya hanya membayangkan saya kembali ke desa kemudian menjadi warga desa yang melihat turis datang.
Ternyata apa yang sya alami berbeda, saya malah menjadi turis yang datang ke desa orang. Tinggal jauh dari orang tua. Bukan hanya antar kota tapi antar pulau.
Bagi saya ini pencapaian penting untuk anak desa yang berasal jauh di lubuk mata sana. Pencapaian ini juga yang membuat saya betah. Bahkan berencana untuk pindah ke tempat yang lebih jauh.
Apalagi saya sadar ketuaan yang saya alami belum begitu jauh. Semangatnya masih seperti anak kuliahan yang masuk semester 4.
Maka dari itu saya mulai mengumpulkan niat untuk menolak tua dengan menjelajahi lebih banyak tempat. Menolak stigma menetap untuk berdamai dengan kedewasaan.
Sekarang yang menjadi pertanyaan kemana kita? Dalam atau luar negeri?
Kita tunggu jawabannya nanti. Saya akan kembali dan menjawabnya di artikel ini.
Salam, Fikri Rahmat Utama
