Saya tidak pernah benar-benar membantu Bapak bekerja. Tapi saya sering ikut. Saya menunggunya di dunia yang berbeda.
Saya mungkin tidak bisa melangkah begitu jauh melewati kampung halaman kalau tidak ikut Bapak bekerja. Hasil ikut-ikutan itulah yang memperkenalkan saya pada buku, benda yang merubah cara pandang saya sampai sekarang.
Saat itu 2010an Bapak punya dua pekerjaan sekaligus sebagai tukang ojek menyambi pengepul ikan. Pekerjaan itu dilakoni bergantian seiring matahari berganti arah. Saat pagi hingga siang hari dia bekerja sebagai tukang ojek lalu siang ke sore dia menjadi pengepul ikan.
Sebelum bekerja sebagai pengepul dia kembali ke rumah untuk makan siang, itu bertepatan saya pulang sekolah. Sebagai anak tunggal dan tinggal dikawasan sepi saya tak punya pilihan selain ikut Bapak bekerja.
Kebetulan pelabuhan kapal kayu tempat Bapak bekerja terdapat kios buku dan perlengkapan kantor milik teman saya. Saya hanya diperbolehkan untuk duduk dan bermain di kios berukuran 2*3 yang bertumbuh setiap tahunnya itu. Dia tidak membolehkan saya bekerja.
Entah apa alasannya melarang saya bekerja. Dahulu prasangka saya karena dia tidak mau saya bekerja berat. Iya, pengepul ikan tidak sekedar mengambil ikan lalu di jual kembali. Tapi harus mengemas ulang ikan di dalam box dan memasukkan es balok seukuran badan manusia agar cukup untuk mengawetkan ikan tersebut.
Walau seringkali mencuri perhatian untuk ikut membantu, tapi waktu saya lebih banyak habis di kios buku. Di situ saya diam-diam menanamkan rasa percaya pada diri. Untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Saya belajar banyak dari yang didapatkan di sekolah.
Sekolah saya mungkin punya perpustakaan tapi saya tidak bisa sedekat itu dengan buku. Saya menemukan kecintaan terhadap membaca saat di toko buku. Walau saat itu seingat saya buku bacaan masih merupakan hal langka bagi saya. Saya hanya banyak membaca buku pengetahuan dan beberapa buku bacaan. Tapi saya bersyukur dengan itu.
Sebelumnya saya suka menyesal kenapa Bapak tidak mau saya bantu bekerja. Tapi kini saya sadar, kadang kita tidak harus ikut memikul beban seseorang untuk bisa mengerti perjuangannya. Cukup mendengarkan. Cukup menyaksikan. Dan cukup hadir.
Hari ini saya melihat bayangan diri saya pada seorang anak kecil yang ikut Bapaknya menjual jas hujan di tengah hujan deras. Saya percaya anak itu akan tumbuh membawa kebaikan dari perbuatannya. Seperti saya dahulu — yang tidak banyak membantu, tapi tidak pernah absen menemani.
*Kota Bogor – Fikri Rahmat Utama
