Seandainya hanya satu pakaian yang bisa Anda kenakan, pakaian apakah itu?

Agaknya bila pakaian yang tersisa hanya satu di dunia ini, maka baju Tentara menjadi pilihan tepat. Dia dwifungsi. Oh iya mungkin namanya bukan pakaian, lebih tepatnya seragam tentara.

Saya bukan maksud hati mendukung militerisme atau sejenisnya. Namun entah mengapa seragam tentara itu terlihat begitu lengkap, lengkap yah bukan bagus. Bagus itu relatif dan subjektif, semua orang bisa bisa mempunyai pilihan masing-masing.

Saya ingin sampaikan bahwa seragam tentara itu lengkap dan praktis. Komplit dari atas sampai bawah sudah ada ketentuan dan modelnya yang laras. Maka bila itu digunakan setidaknya kita punya pakaian untuk seminggu.

Seragam tentara yang kita punya tinggal dibagi-bagi dalam beberapa bagian. Kemudian disusun secara rutin setiap hari agar bisa jadi pakaian selama seminggu. Jumlah baju itu cukup untuk seminggu, dari jaket atau luaran sampai kaus oblong yang menempel langsung ke kulit.

Kita bagi saja dalam beberapa bagian. Baju Tentara setidaknya punya empat lapisan. Ini yang sederhana. Baju dinas lapangan–rompi, baju luar, kaos, kutang, celana panjang, celana pendek, celana dalam, topi, kaos kaki, sepatu– segitu banyak item membuatnya komplit.

Seragam tentara sudah lengkap dari sananya, tanpa perlu memerlukan apa saja yang harus dimiliki. Ini yang menjadi alasan saya memilih baju Tentara, maksudnya seragam tentara. Seragam ini sudah lengkap untuk kebutuhan, warnanya laras dari ujung kaki sampai kepala. Membuat mudah untuk dikenali, tanpa takut tertukar.

Untuk skema setiap hari mungkin bisa dimulai dengan pakaian komplit di hari senin dan Selasa. Agar tidak gatal, pakaian luar dipakai pertama di hari selanjutnya. Artinya rompi dan celana panjang serta sepatu di hari Rabu–tanpa dalaman tentunya.

Hari Kamis, baju kaos dan celana pendek dan sepatu lengkap dengan kaos kaki. Hari Jumat, kutang dan celana panjang lagi beserta sepatu tanpa kaos kaki. Hari Sabtu bisa menggunakan secara lengkap lagi, kemudian dipakai dua hari lagi.

Setelah itu rutinitas skema pakaian seragam tadi bisa digunakan dengan seterusnya sampai mendapatkan pakaian lain. Ini tentu harus dilakukan dengan mencuci item lain saat tidak digunakan. Bila tidak maka akan sulit rasanya menahan gatal dari pakaian.

Hanya saja, situasi seperti ini agaknya air untuk mencuci tak mungkin hilang. Sebab situasi terburuk bagaimana pun air itu tetap ada. Film zombie dan kiamat seburuk-buruk apapun tetap menyediakan air. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mencuci.

Oh iya namun ada kekurangan dalam seragam ini karena hanya punya satu celana dalam. Itu sulit rasanya sebab vital untuk pria. Kelamin itu sensitif–dalam arti positif ataupun negatif. Jadi dalam keadaan ini saya punya permintaan untuk tambahkan celana dalam lebih dari satu, dua lah–sama k**** satu.

*****

Ketiadaan pakaian ini membuat saya menjadi terguncang. Saya jadi rasa tertampar karena jarang mencuci pakaian sendiri atau sekedar mengganti pakaian setiap hari. Saya sebenarnya ingin mempermudah hidup sehingga tidak terlalu sering ganti baju. Kalau soal mencuci saya serahkan itu kepada ahlinya—laundry yang setia mencuci pakaian saya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bila itu terjadi di kehidupan nyata. Walaupun sulit dibayangkan tapi menjadi momok menakutkan karena bisa membuat hilang arah.

Iya. Sebab memiliki pakaian yang terbaik adalah impian setiap orang. Maka kalau situasi seperti itu akan bingung untuk memilih. Untungnya saya bukan anak skena atau SCBD yang mementingkan gaya pakaian. Kalau saya punya gaya pakaian maka bukan seragam tentara saya pilih.

Seragam tentara setidaknya bisa jadi pilihan terbaik saat situasi itu terjadi. Saya memikirkan ini secara cepat–saat membaca pertanyaan itu. Sebab sudah dari dulu saya pikirkan bagaimana komplitnya pakaian mereka. Wajar saja mereka merasa diri bisa double job.

*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor