Menjadi wartawan dengan kemampuan standar saja tidak cukup. Butuh kemampuan Intelijen

Apa keterampilan atau kemampuan rahasia Anda atau yang ingin Anda miliki?

Ini pertanyaan yang muncul di prompt harian blog saya. Setelah membacanya, saya termenung.

Mencari tahu apa yang kurang dengan kemampuan jurnalistik saya. Lama berpikir kemudian saya ingin punya kemampuan Intelijen, seperti di film-film ataupun dunia nyata orang lain.

Kemampuan Intelijen memang menjadi dambaan semua orang. Termasuk wartawan, seperti saya. Agaknya kemampuan ini menjadi hal wajib dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Wartawan itu sebenarnya semi Intelijen. Hanya saja lebih terbuka. Sebab kita bertemu langsung narasumber, tidak seperti Intel yang mengamati dari jauh.

Tapi pekerjaan mencari berita dan informasi adalah pekerjaan Intelijen. Sebab ini membutuhkan kemampuan untuk melacak orang, mengamati tanpa ketahuan, dan mencari data yang akurat.

Maka tidak salah bila menjadi wartawan harus memiliki kemampuan Intelijen. Ini mungkin yang luput dari perhatian, tapi dalam jurnalistik investigasi ini dibahas walaupun tidak secara jelas disampaikan.

Makanya saya mau punya kemampuan Intelijen. Supaya bisa masuk dan mengintrogasi orang dalam hal ini wawancara untuk konteks wartawan, dengan mudah. Kemampuan Intelijen bisa membantu pekerjaan cepat selesai.

Sekali lagi saya sampaikan wartawan adalah semi Intelijen. Kalau dinilai melanggar hukum maka melakukan operasi yang tidak melanggar hukum.

Kan Intelijen bukan hanya soal menumpas lawan diam-diam. Tapi kerja-kerja senyap untuk mencari informasi.

Iya, informasi yang menjadi makanan dan pekerjaan sehari-hari wartawan. Sebagai sesama pencari informasi maka saya ingin sekali memiliki kemampuan Intelijen.

Jadi bisa seperti detektif conan yang menyelesaikan masalah dan tantangan sendiri. Atau seperti Tintin yang disegani dengan kemampuannya.

*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor