Keputusan terburu-buru tak selamanya buruk: Saya memilih tinggal di Bogor dan itu keputusan terbaik
Tahun ini Ramadan kedua saya di Bogor. Ramadan keempat di perantauan. Saya belum pernah Ramadan di kampung sejak 2021 silam.
Bukan soal biaya ataupun waktu, tapi sekedar belum mau saja. Cerita saya belum tuntas untuk diceritakan ke orang rumah. Masih belum cukup menutup mulut tetangga yang mampir ke rumah.
Rasanya masih betah berlama-lama di kejauhan. Tenggelam dalam kehidupan masyarakat yang tidak dikenal. Jadi asing memang membuat candu.
Satu tahun empat bulan delapan belas hari di sini bukan tempo yang lama. Setelah banyak melihat kondisi dan masyarakat Kota Bogor ternyata cukup nyaman.
Belanda ternyata tidak bohong soal kota ini. Kedatangan mereka kemudian bermukim lama di sini memang bukan tanpa alasan. Walau sering hujan namun kesejukan udaranya sangat bagus.
Walau tak merencanakan untuk tinggal lama di Bogor, setidaknya kota ini akan saya tinggali dalam waktu lama. Apakah akan sama seperti di Makassar? Belum tahu dan saya tak ingin tahu. Biarkan masa depan menjawabnya.
Refleksi yang saya sampaikan hanya ke belakang, ke masa lalu. Keputusan untuk pindah ke Bogor bukan keputusan buruk. Saya beruntung bisa mengambil keputusan itu. Walaupun tidak sematang telur keputusannya, tapi cukup melegakan.
Saya tidak pernah menyesal untuk pindah ke sini. Tempat ini cukup untuk hidup di tengah kejenuhan sebagai masyarakat kota. Kota tak melulu soal problematika yang rumit. Bogor contohnya, kita bisa hidup slow living tanpa tergantung dinamika metropolitan.
Kita berada di lembah antara masyarakat urban dan pedesaan. Kota ini tak jauh dari Jakarta, pusat dari semua peradaban manusia di Indonesia. Tapi tak jauh juga dari pedesaan yang asri dan belum terjamah.
Lembah bernama Bogor ini menyajikan panorama kedua kehidupan yang seringkali disebut tidak bisa beriringan. Mungkin ini juga yang bikin betah.
Apalagi tempat sebelumnya, walau jauh dari Jawa tapi segala kerumitan urban terjadi di kota itu. Namun, keduanya bagi saya tetap menjadi pelajaran berharga.
*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor
