Caper akhirnya lahir jadi nama untuk blog saya. Setelah sekian lama, pencarian akhirnya tertuntaskan.

Caper adalah singkatan dari Catatan Perjalanan, bukan berarti “cari perhatian.” Itu adalah nama rubrik dan blog yang saya cari selama ini. Sekarang, saya memutuskan untuk menjadikannya nama blog atau rubrik khusus tulisan saya.

Namanya yang unik dan menarik, namun tetap familiar di telinga, membuat saya jatuh hati untuk memakainya. Saya memutuskan untuk menggunakan nama tersebut untuk blog ini.

Sebelumnya, saya tidak punya nama khusus untuk blog ini. Menggunakan nama “catatan harian” terasa kurang tepat karena tidak setiap hari saya menulis; “catatan mingguan” juga kadang terlewat, dan “catatan bulanan” terlalu lama.

Dalam perjalanan mencari nama yang cocok, saya sempat mencari inspirasi dari blog atau rubrik penulis lain. Salah satu nama yang sering diingat adalah “Catatan Pinggir” karya Goenawan Mohamad (GM). Caping, begitu singkatannya, menjadi rubrik yang sangat terkenal.

Saya baru tahu bahwa rubrik ini sudah ditulis selama 47 tahun dan setiap pekan, satu Caping diterbitkan di Majalah Tempo, media milik GM. Saya sangat kagum dengan ketekunan yang luar biasa, bagaimana seorang penulis sekaligus wartawan bisa tetap menulis secara konsisten meski sibuk dengan pekerjaan lainnya.

Akhirnya, saya menemukan nama yang cocok: Catatan Perjalanan, yang muncul dari domain web travelblog. Dulu saya menganggap nama itu kurang menarik, tetapi seiring waktu, saya mulai menerima dan menghargainya.

Saya memutuskan untuk mengabadikannya sebagai nama blog, yang saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Catatan Perjalanan. Awalnya, saya tidak langsung membentuk kata “Caper,” tetapi setelah berpikir untuk memendekkan kata tersebut, saya sadar bahwa singkatannya ternyata sangat cocok: Caper.

Dalam KBBI, “Caper” berarti “cari perhatian,” sebuah singkatan yang sering digunakan dalam bahasa gaul. Nama ini terasa pas, karena setiap penulis pada dasarnya ingin “caper” lewat tulisan, berharap tulisan mereka dibaca, dimengerti, dan memberi dampak pada orang lain.

Dengan nama Caper, saya ingin lebih dari sekadar sebuah blog. Saya berharap nantinya Caper bisa berkembang menjadi rubrik di media massa. Ketika saya sudah menjadi penulis rutin di media tersebut, saya berharap jejak Caper bisa sepopuler Caping atau seperti Catatan Harian Dahlan Iskan yang dulu ramai diperbincangkan.

Harapan saya, Caper bisa menjadi bahan pembicaraan, mendapatkan perhatian dari banyak orang. Tulisan saya yang tapuraca (berantakan dalam dialek Sulawesi Tengah) bisa dipahami dan sejalan dengan pemikiran pembaca. Bahkan, jika memungkinkan, saya berharap tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi mereka.

*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor