Mudik itu bisa kapan saja. Tidak harus sebelum lebaran. Setelah lebaran pun kita bisa mudik.

Tradisi mudik sudah ada sejak zaman dulu di Indonesia. Mudik menjadi momen untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun saya dulu selalu yakin kalau mudik itu harus selalu sebelum lebaran.

Kita menikmati mudik untuk bertemu dengan keluarga dan merayakan idulfitri bersama, di hari pertama tentunya. Maka dari itu mudik harus dilakukan sebelum lebaran bukan setelah lebaran. Sebab setelah lebaran cenderung tidak lagi menyenangkan.

Tapi itu dulu. Saat saya masih belum tahu makna sebenarnya dari mudik. Makna dari pulang kampung yang semua orang inginkan. Mudik ternyata tak ada salahnya setelah lebaran. Saya tidak boleh menjustifikasi orang lain yang melakukan ini.

Sejatinya sudah lama saya memikirkan hal ini. Namun momen liputan di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor pada H+1 lebaran kemarin jadi pengingat kembali. Di saat itu banyak yang baru mudik lebaran. Mayoritas mereka pergi ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Saya sempat ngobrol dengan beberapa diantaranya, satu diantaranya mengatakan sengaja mudik setelah lebaran karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Dia menyelesaikannya hingga tengah malam, malam takbiran. Sehingga memutuskan pulang kampung sehari setelah lebaran.

Mudik lebaran setelah lebaran pun sudah sepatutnya saya maklumi. Banyak orang di luar sana punya tuntutan kerja yang cukup besar sehingga memilih menyelesaikannya lebih dulu sebelum mudik, baru dapat tiket/libur, Atau mungkin saja mereka memilih mengumpulkan uang lembur lebaran yang nilainya lumayan untuk dibawa pulang.

Alasannya beragam, tapi apapun alasannya mereka juga tentu mau lebaran tepat waktu. Mereka tentu ingin berkumpul dengan keluarganya di hari lebaran. Tapi pekerjaan dan berbagai pertimbangan mendesak lainnya terkadang jadi penghalang untuk sementara. Begitupun yang saya rasakan.

Tahun ini saya tidak pulang kampung di Sulawesi Tengah sana. Saya sudah dua tahun menghabiskan waktu lebaran di Bogor. Saya kerja di sini. Pulang lebaran tentu saya mau, tapi biaya dan waktu perjalanan jadi menjadi pertimbangan utama.

Biayanya cukup untuk hidup dua bulan. Waktunya cukup untuk menyelesaikan banyak pekerjaan. Kedua pertimbangan ini yang membuat saya tidak memilih untuk mudik. Saya memilih untuk tetap tinggal di perantauan.

Tapi bukan berarti saya tidak pulang selamanya. Saya sudah sempat mudik setelah satu tahunan merantau di Bogor. Saya mudik akhir tahun lalu. Saya ikut menerapkan konsep mudik yang dianut orang-orang yang jadi pembahasan dalam tulisan ini. Mudik bisa setelah lebaran, atau tidak harus lebaran untuk mudik.

Mereka yang mudik belakangan juga ini sebenarnya difasilitasi oleh pemerintah. Bukan lewat transportasi umum tapi lewat libur lebaran yang cukup panjang bahkan seminggu setelah lebaran. Akhirnya saya jadi mengerti: libur lebaran panjang ini bukan hanya memberikan waktu masyarakat untuk kembali dari perjalanan mudik. Ini juga memberikan waktu untuk mudik setelah lebaran.

Saat ini bila membaca berita-berita di media sosial banyak orang yang melakukan hal ini. Tak sedikit mudik setelah lebaran. Sepertinya ini bisa jadi pilihan juga untuk mengurai kepadatan mudik. Memberikan ruang atau libur lebih bagi warga yang mudik setelah lebaran. Pemerintah maupun perusahaan swasta bisa menjadikan ini opsi bagi pegawai.

Apalagi bila melihat tradisi lebaran, di Indonesia ada tradisi lebaran ketupat. Lebaran kedua bahasa awamnya. Lebaran yang dilakukan di satu pekan setelah lebaran idulfitri. Tepat di tanggal 8 Syawal. Lebaran ini banyak dilakukan oleh masyarakat di Sulawesi, lombok, Kalimantan, atau sebagian kecil di pulau Jawa.

Ini jadi pertanda kecil kalau mudik setelah lebaran sudah bagian dari tradisi. Lebaran ketupat jadi wadah untuk mengakomodasi mudik setelah lebaran ini. Kalau dilihat sejarahnya ini dikerjakan oleh murid-murid wali songo.

Mungkin saja dahulunya karena mereka harus lebaran dulu dengan gurunya baru pulang kampung, akhirnya terlintas dipikiran untuk membuat lebaran kedua. Mudik setelah lebaran akhirnya jadi asal usul lebaran ketupat. (*)

Ingatan

Bulan lalu, saya meliput kegiatan launching buku di Kartu Pos Bergambar dari Buitenzorg karya Menteri Kebudayaan, Fadil Zon dan temannya Mahpudi di di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Kota Bogor. Saya baru pertama kali meliput di tempat itu tanpa tahu kalau tidak semua wartawan bisa masuk tanpa undangan. Walau tidak mengetahui hal itu tapi entah mengapa saya lolos tanpa undangan.

Ramadan tahun lalu, saya meliput pembagian takjil gratis di depan Kantor Bupati Bogor. Saya tidak tahu saat ini apakah kegiatan serupa masih dilakukan atau tidak. Tapi yang ingin saya cerita, foto saya naik jadi foto utama di media saya Radar Bogor. Saya memfoto antrean panjang sendal warga yang dijejer agar mereka tak perlu panas-panasan.

Tahun 2021 lalu, saya pernah mengunjungi Kota Malang untuk studi belajar bersama teman kampus. Kami dua harian di kota itu, tapi saya menyesal karena tidak banyak tempat yang dikunjungi. Saya hanya kebanyakan tidur karena saking dingin dan sejuknya tempat itu. Padahal saya punya banyak waktu untuk jalan-jalan.

*Kota Bogor