Saya bernama Fikri Rahmat Utama, saat ini sedang bekerja meraih sesuap nasi. Saya lahir pada 7 Desember 2000 di Luwuk Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah.

Saya anak pertama dan satu-satunya dari seorang ayah berdarah Mandar dan ibu berdarah Bugis. Karena tumbuh sebagai anak tunggal saya lebih banyak menghabiskan waktu sendirian atau bersama orang tua.

Semasa kecil saya tinggal di Banggai, Kabupaten Banggai Laut, sejak TK hingga SMA. Sebelum akhirnya pindah ke Makassar untuk melanjutkan kuliah.

Saya kuliah di program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, kemudian lulus di 2023. Dan sekarang sedang mengembara di kehidupan nyata.

Saya memiliki karakter yang cukup ambisi terhadap diri sendiri. Dan seringkali merasa tidak ingin kalah dan mendebat orang yang tidak senang dengan pendapat saya. Tapi hal itu coba saya singkirkan dengan belajar diberbagai tempat untuk bisa menerima kritikan ke diri saya.

Namun itu juga yang membuat ambisi saya menjadi kuat, tercatat saat SMA saya menjadi juara dua dalam dua tahun berturut-turut. Serta menjadi ketua pramuka selama dua tahun, dan berlanjut di jenjang kuliah saya menjadi lebih suka berorganisasi sampai pernah menjabat sebagai Pemimpin Umum di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi UNM.

Perihal kompetensi saat ini karena saya pernah belajar di LPM Profesi UNM selama tiga tahun maka berbagai kompetensi dibidang jurnalistik saya ketahui. Walau lebih kearah pemula namun saya memiliki kemampuan menulis, mendesain, fotografi, videografi, editing video, pengelolaan media sosial, hingga layouter. Semua hal itu saya mampu kuasai dengan tingkat kemahiran pemula.

Saya memiliki cita-cita untuk bisa menjadi agen perubahan di lingkungan dan keluarga ingin memiliki sesuatu yang bisa merubah hidup orang lain. Saya ingin semua orang bisa memiliki kompetensi yang cukup untuk bersaing dan bertahan hidup.

Saya juga ingin orang lain memiliki toleransi yang tinggi terhadap sesamanya. Hal itu dianggap perlu karena mewujudkan iklim kehidupan yang baik maka harus memiliki persaingan sehat.

Cara untuk mewujudkan hal itu ialah saya harus membantu orang lain untuk belajar meningkatkan kompetensinya dan meningkatkan jiwa toleransinya. Saya bercita-cita membangun Yayasan yang membantu orang-orang meningkatkan skillnya dan kompetisinya.

Serta saya juga menginkan adanya media massa yang membantu merubah pola pikir dan nalar kritis masyarakat agar bisa lebih toleransi dan menghargai keberagaman.

“Kita bisa lihat dan kagumi harta orang lain tapi kita tidak bisa ikuti mereka, karena kita tidak mampu,” Bapak & Ibu Fikri.

*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor