Pulang kampung (pulkam) di penghujung tahun 2024 merupakan salah satu momen berkesan. Selain karena tujuan saya pulkam yang istimewa, proses yang saya tempuh pun tak kalah istimewa. Saya setidaknya harus menggunakan semua moda transportasi yang ada di Indonesia.

Silakan pikirkan moda transportasi apa saja yang ada di Indonesia. Perjalanan pulkam saya menggunakan semua moda transportasi tersebut. Setidaknya moda transportasi yang lazim digunakan mayoritas warga Indonesia. Mulai dari motor, bis, kereta, pesawat, mobil, sampai berjalan kaki.

Maka tidak heran saya sebut pulkam saya ini sangatlah berkesan sekaligus melelahkan. Saya tidak tahu apakah ada perjalanan yang setimpal dengan pulkam saya tahun ini. Ini pun tidak terbesit di pikiran saat pertama kali berencana untuk pulkam.

Perjalanan saya dimulai saat menggunakan ojek online (ojol) untuk ke Stasiun Bogor. Setiba di stasiun saya mesti menggunakan kereta api (KRL) menuju ke Stasiun Manggarai. Harapannya saat sampai di Manggarai saya akan melanjutkan perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta menggunakan kereta lagi, tetapi ternyata kereta terakhir sudah lewat. Terpaksa menembus kota dengan ojol lagi sampai ke Terminal Kalideres, lalu dijemput teman ke rumahnya.

Saya berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta diantar lagi teman tadi. Di bandara, moda transportasi ketiga digunakan yaitu bis, dari TOD ke terminal satu bandara. Saya pun terbang menggunakan pesawat terbang ke Palu (dengan transit dulu di Makassar). Dari perjalanan tak berhenti, saya lanjutkan dengan mengendarai mobil rental menuju Luwuk di Kabupaten Banggai.

Perjalanan kurang lebih 13 jam tak terasa karena tidur yang begitu lelap. Sekali lagi ini bukan perjalanan terakhir, di Luwuk saya masih harus menggunakan kapal Ferry untuk menyebrang ke kampung halaman yaitu Banggai di Kabupaten Banggai Laut. Memang cukup panjang dan melelahkan namun ini yang benar-benar saya lewati saat pulang kampung. Perjalanan ke Banggai membutuhkan waktu tempuh sekitar 10 jam sebelum akhirnya sampai ke rumah.

Ketika kita menghitung total hari yang harus dihabiskan untuk pulang yaitu 3 hari mulai dari hari Senin-Rabu, 23-25 Desember 2025. Perjalanan yang panjang bulan untuk sekedar pulkam dari Bogor Jawa Barat ke Banggai Sulawesi Tengah. Ini Indonesia bukan luar negeri namun begitu jauh jarak tempuhnya. Alasan utama saya menempuh jarak yang jauh dan melelahkan ini karena: duit.

Saya bisa saja menggunakan pesawat langsung menuju Luwuk dari Jakarta. Namun biaya yang harus dikeluarkan cukup menggetarkan dompet, atau dengan kata lain lebih baik liburan ke Singapura dan Malaysia dibanding membeli pesawat ke Luwuk. Mahal dan tidak masuk akal bahkan saat diskon Pemerintah Indonesia turun harganya tetap tinggi.

Namun dibalik keluhan saya, tetap kembali ke paragraf awal tadi bahwa perjalanan ini berkesan. Moda transportasi yang saya kendarai menjadi cerita menarik dan unik. Jarang sekali mendengar perjalanan dalam negeri yang harus menggunakan semua moda transportasi dan menghabiskan waktu berhari-hari. Ini juga yang mengilhami tulisan ini lahir dengan pengalaman hidup menarik.

Kalau bertanya ke saya apakah saya kapok, tentu tidak. Walaupun mesti menempuh perjalanan jauh dan berganti-ganti moda transportasi tetapi sangat menambah pengetahuan. Ilmu dan pengetahuan saya terutama dunia tranportasi menjadi lebih banyak. Ini juga jadi pegangan penting untuk perjalanan selanjutnya.

Namun bukan berarti saya setuju dengan moda transportasi yang begitu ribet ini. Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Karena potensi wisata dan ekonomi di kampung saya itu begitu besar jadi bila ini dibiarkan maka akan sangat sedikit wisatawan yang datang berkunjung.

*Fikri Rahmat Utama – Banggai Laut