Tanpa disengaja, liputan saya beberapa bulan ini banyak berfokus pada keriuhan pasar. Sempat kepikiran mengapa tak bosan merekam pasar.

Ternyata lupa, saya salah satu anak yang bertumbuh besar di pasar. Jadi saksi orang tua mengais rezekinya sambil berkejaran dengan naiknya matahari.

Keluhan-keluhan pedagang serasa curhatan ibu dan bapak setiap malam. Tekat mereka sama, berjualan tak perlu ramai yang penting ada barang terjual walau satu-dua untuk menjaga optimisme.

Kini walau pekerjaan tidak di pasar tapi tetap menyempatkan berkunjung. Apalagi e-commerce sudah banyak menggerogoti, ramainya tak sebanding dahulu.

Banyak pedagang angkat kaki karena tidak mampu menahan sepinya pembeli. Optimisme mereka satu persatu berhenti dan hilang.

Sekarang hanya jadi tempat merawat ingatan dan menjaga asa anak tetap hidup. Semoga walau dunia semakin berkembang, pasar bisa tetap tegak berdiri.

*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor