Selama beberapa tahun ke belakang, saya melewati Ramadan diberbagai tempat. Gak hanya 1 atau 2 tapi 4 kota yang berbeda.
Semua itu saya lalui dengan berbagai macam bentuk. Ada yang dalam keadaan kesepian maupun dengan keluarga dan teman.
Saya rasa tak ada salahnya kalau mengatakan Ramadan adalah bulan yang berkah. Karena memang banyak hal yang tidak terjadi di bulan lain selain Ramadan.
Salahsatunya adalah menjual takjil yang hanya ada di bulan Ramadan. Bulan lain tidak ada orang menjual takjil setiap sore.

Kalau bulan lain menjual takjil tidak nampak menggiurkan dan istimewa. Berbeda dengan berjualan di bulan Ramadan yang sangat menggiurkan.
Tahun ini ada fenomena baru yang lagi ramai diperbincangkan. Fenomena banyaknya umat non muslim yang ikut membeli atau bahkan memborong takjil.
Mereka biasanya datang lebih awal daripada umat Islam. Kalau umat Islam biasanya datang membeli takjil saat mendekati magrib atau buka puasa: sekitar jam 4-5 sore. Mereka justru datang di jam 3 sore, saat dimana umat Islam masih belum kepikiran untuk membeli.
Fenomena ini menjadi hal yang menyenangkan. Menunjukkan begitu bahagianya semua orang saat Ramadan. Kebahagiaan ini saya rasa tak sama seperti hari biasanya.
Membagi takjil, tarawih, bukber, ngabuburit, kemeriahan membangunkan orang sahur pun bagian dari rangkaian kegiatan yang hanya ada di Ramadan. Saya tidak habis pikir bagaimana sampai Allah SWT memikirkan untuk membuat bulan yang begitu istimewa ini.
Ramadan sepengatahuan saya merupakan satu-satunya perayaan umat manusia yang punya waktu yang lama. Nonstop selama 29-30 hari atau sebulan penuh.
Segala suasana akan menjadi berbeda seperti hari biasanya, waktu menjadi lebih lama dan tiba-tiba lebih singkat. Jalanan menjadi ramai.

Hiruk-pikuk masyarakat seakan menggeliat di seluruh wilayah. Itu hanya bisa dirasakan di Ramadan.
Ramadan yang istimewa ini menurut saya merupakan pencapaian tertinggi yang bisa dimiliki. Cobaan yang dirayakan sedemikian rupa seakan-akan bukan cobaan.
Bayangkan saja, kita diberikan cobaan untuk menahan lapar 12 jam atau lebih. Tapi kita tidak meresponnya dengan amarah tapi justru dengan penuh gembira dan semangat.
Bulan Ramadan menjadi selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Padahal ini bulan yang memberikan kita cobaan loh. Tapi seakan-akan kesenangan hakiki yang diberikan.
Sungguh istimewa Ramadan dengan segala sesuatunya. Ibadah memang dianjurkan untuk ditingkatkan. Pahala dilipatgandakan saat berbuat baik dan beribadah di bulan Ramadan.
Saya akhirnya menjadi yakin bahwa Ramadan sebenarnya adalah bukti. Bukti dari Allah SWT kalau ia begitu baik kepada umatnya.

Kesenangan dan kebahagiaan yang kita miliki seakan memberikan signal bahwa saat diberikan cobaan kita harus menghadapinya. Ketakutan dan kekhawatiran tidaklah menyembuhkan. Kita harus bahagia agar cobaan bisa dilewati.
*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor
