Apa satu pertanyaan yang paling Anda benci untuk diajukan? Kalau saya, tidak ada pertanyaan yang dibenci hingga hari ini.

Menjelang puasa begini menandakan kumpul bersama keluarga besar akan kembali terselenggara. Bisa dipastikan akan banyak status-status sakit hati yang bertebaran di media sosial.

Sebab memang saat kumpul keluarga pasti beberapa diantaranya akan diberi pertanyaan basa-basi. Walau basa-basi nyatanya efeknya tidak basi.

Seringkali yang ditanyakan seputar kapan kawin (untuk yang belum menikah), kapan punya anak (untuk yang sudah menikah, kerja apa dan gajinya berapa? (untuk yang baru lulus dan diterima kerja).

Pertanyaan-pertanyaan itu buat sebagian orang sangat menyiksa batin. Kena mental sehingga membuat jadi tidak mau untuk berkumpul lagi.

Tapi bagi saya hal itu tidak berlaku. Selama beberapa tahun terakhir menjalani kehidupan dan bertemu keluarga besar saat puasa maupun lebaran saya tidak keberatan ditanyai begitu.

Sampai saat ini belum merasa terbebani dengan pertanyaan itu. Padahal itu seringkali jadi momok menakutkan bagi orang lain. Herannya, saya tidak demikian.

Saya sempat berpikir apakah karena belum waktunya atau memang pertanyaan begitu tidak penting. Padahal semua pertanyaan yang diajukan ke saya kalau dijawab pasti cenderung tidak positif 100%.

Kehidupan saya di kota orang jauh dari yang seharusnya. Namun nampaknya saya memang menikmatinya. Makanya pertanyaan-pertanyaan ultimate yang selalu dilontarkan tidak berpengaruh.

Selain itu mungkin karena saya yang sifatnya masa bodoh. Sehingga saya merasa tidak perlu menanggapi serius apa yang disampaikan orang lain.

Memang sifat masa bodoh ini berguna untuk saya. Membuat tak terbebani dengan pertanyaan yang bagi orang lain sulit.

Tapi saya belum bisa bernafas lega. Masih ada waktu beberapa tahun kebelakang. Apakah keadaan serupa masih akan terus bertahan? Atau malah sebaliknya.

Saya tidak bisa memastikan dan mengetahui hal tersebut. Yang pasti semoga sifat masa bodoh ini bisa terus menyelamatkan saya dari justifikasi orang lain. Kalau tidak habis saya dikoyak gosip.

*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor