Apa kayu bakar yang paling ampuh untuk membakar semangat bekerja?
Saya datang ke Bogor bermodal nekat dan uang secukupnya. Sekiranya mungkin 2 jutaan untuk hidup sebulan.
Pikiran saya di bulan kedua sudah memiliki gaji yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Nyatanya benar, hidup saya masih tersambung hingga saat ini.
Tidak banyak orang yang saya ceritakan soal alasan memilih untuk pindah ke Bogor. Kebanyakan saya hanya menjawab ingin mencari kerja.
Memang benar, salah satu tujuannya adalah bekerja. Tapi lebih dari itu banyak hal jadi landasan untuk saya berpindah tempat. Menuntaskan niat, menyenangkan hati, sekaligus menambah pengalaman baru tentunya.
Berpindah tempat ke Makassar dan Bogor bukan hal yang sulit bagi saya. Sebenarnya saya hanya kesulitan untuk mencukupi kebutuhan saja. Tapi untuk menjalani hidup termasuk beradaptasi bukan sesuatu yang sulit.
Saat di Makassar saya juga bukan orang asli di sana. Saya merantau dari Banggai Laut Sulawesi Tengah ke Makassar Sulawesi Selatan. Dulu awalnya sulit tapi namanya hidup akan terus berjalan tak akan berhenti tak akan mundur.
Saya sudah bisa bertahan 5 tahun di Makassar, dari situ saya memikirkan masa bertahan di Bogor dengan jangka waktu yang sama atau lebih tidak bisa. Tidak ada perbedaan signifikan, hanya mahasiswa beralih ke kerja, dan hidup dengan uang sendiri.
Sebenarnya niat saya datang ke sini juga tidak datang jauh hari. Cenderung tiba-tiba gabut karena merasa sudah lulus dan kebingungan mau cari kerja apa. Akhirnya menjemput rezeki di Bogor.
Setelah di Bogor sebenarnya kerja yang saya miliki gajinya pas-pasan. Terlebih saya masih sering berhutang untuk menyelamatkan hidup.
Tapi saya tidak masalah. Selama saya punya niatan yang kuat untuk melunasinya. Beruntunglah memiliki kemampuan manajerial uang yang cukup. Membuat saya bisa melunasi hutang secara pelan-pelan.
Di Bogor saya bekerja sebagai wartawan. Wartawan punya pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi. Harus kesana-kemari mencari berita. Saya tetap jalani karena ini pekerjaan yang saya pilih.
Selama 4 bulan bekerja saya tidak memiliki motor. Jadi kesana-kemari mencari berita harus mengunakan tiga hal: 1. Ojol. 2. Numpang teman. 3. Angkot/bis.
Mungkin awalnya bisa saya selesaikan semua pekerjaan dengan kondisi saat ini. Tapi sulit untuk bisa cepat menyelesaikan tugas yang diberikan. Seringkali tugas yang diberikan harus molor beberapa hari.
Semakin banyaknya tuntutan maka saya memutuskan untuk membeli motor bekas dari senior kantor. Hari ini motor resmi saya punya untuk pertama kalinya semenjak menginjakkan kaki di Bogor.
Alhamdulillah sampai saat motor saya dapatkan. Hidup saya masih berjalan lancar terus, walau sempat tersendat-sendat. Namun itu semua tantangan yang harus dilewati.
Semoga dengan adanya motor ini bisa menambah semangat kerja. Niat dan tekad saya yang kuat akhirnya bisa dibayar lewat memiliki motor.
*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor
