Serba-serbi liputan tentang pemilu: rilis survei, kampanye pilpres dan caleg, simulasi pemilu, dan tak kalah penting melihat lebih dekat Hitam-Putih (kebanyakan hitam) setiap calon.
Pemilu tahun ini begitu banyak bisa saya masukkan di ingatan. Saya mengikuti cukup rinci semua seluk beluknya.
Walau kampanye yang saya ikuti hanya tingkat daerah. Tapi saya jadi paham begitu susahnya mencari pemimpin yang benar-benar baik (saya tidak berharap kesempurnaan tapi minimal berproses dengan baik).
Saya berharap nantinya pemilu selanjutnya dan prosesnya bisa mengarah ke arah yang lebih baik. Walau itu mungkin saja sulit diwujudkan dengan presiden terpilih saat ini.
Kampanye memang sesuatu yang sangat krusial dalam menentukan keberhasilan para calon. Tapi sebenarnya proses sebelum kampanye yang menjadi kunci utama.
Sebab saya melihat begitu banyak yang mencalonkan diri sebagai caleg dan capres namun abai soal proses sebelum kampanye. Kemenangan satu putaran Prabowo-Gibran adalah buah dari proses yang dilakukan sebelumnya.
Proses Prabowo-Gibran sebelum kampanye sudah begitu masif. Menurut saya cara mereka begitu kotor. Namun demikian hasilnya dianggap emas karena kemenangan telak didapatkan.
Sebenarnya tidak hanya dia. Semua calon juga berbuat kotor baik Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud. Tapi saya berharap tidak yang paling terkotor lah yang terpilih.

Selain proses sebelum kampanye yang saya sebutkan tadi. Saat kampanye begitu banyak saya temui sesuatu yang di luar dugaan.
Semua caleg dan masyarakat seakan sudah terbiasa dengan kampanye hitam. Serangan fajar dan pelanggaran pemilu diberikan dan diterima seakan hanya sesuatu yang wajar-wajar saja.
Saya sadar pesta demokrasi masih jauh dari kata baik. Pemilu seakan hanya seremonial belaka. Kebaikan politikus hanya muncul di saat pemilu.
Mungkin sulit rasanya dibuktikan, karena selain sudah lewat dan tidak punya alat bukti. Kita juga masih suka mengamini kesalahan yang sudah turun menurun. Namun saya melihat dan mendengar langsung.
Saya menjadi setuju dengan semua lelucon yang sering dilemparkan soal pemilu. Pemilu tempatnya semua politikus jadi baik. Rakyat menjadi saling mencaci. Kesalahan akan dibiarkan selama mereka suka dengan orangnya.
Catatan pemilu ini saya harap akan terus tersimpan rapi di ingatan dan tulisan ini. Berdiri dan bersuara di sisi seberang memang sulit. Tapi ikhtiar ini menurut saya sudah sangat tepat saya lakukan.
Semua proses pemilu tahun ini mampu membuka mata bahwa memang sulit untuk berharap pemerintah menjalankan sesuatu secara bersih. Karena proses kotor sudah dilakukan sebelum terpilih sehingga saat memimpin tidak ada perubahan signifikan.
Proses hidup memang akan terus berjalan, siapapun yang menang pemilu. Walau kekecewaan tetap ada di hati namun saya tetap bangga dengan pilihan.

Saya sebenarnya memilih golput tahun ini. Tapi saya mencoba menjaga idealisme saya dengan tidak berharap Prabowo-Gibran terpilih. Terserah 03 atau 01.
Walaupun memang masih banyak hal putih atau baik dalam prosesnya kampanye pemilu. Tapi menurut saya itu presentase sangat kecil. Tertutup dengan kampanye kotor yang diamini kita semua.
Saya memang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi saya hanya bisa menyimpan dengan rapi hal ini. Dan berharap kedepannya akan berubah menjadi lebih baik.
Saat ini kita menyambut presiden dan wakil presiden baru. Pengabdian dari Prabowo dengan capres 3 kali akhirnya membuahkan hasil. Semoga semua keinginan harapan yang diberikan kepada Prabowo-Gibran sebagai Capres-cawapres terpilih bisa terwujud. Dan dugaan saya tidak terwujud.*
*Fikri Rahmat Utama
