Kebiasaan orasi aktivis mahasiswa di Indonesia: Bahasanya rumit
Tidak di Makassar, tidak di Bogor. Saya selalu melihat orasi yang membosankan dari aktivis mahasiswa. Saya seringkali dibuat mengantuk dengan orasi mereka. Alih-alih ikut terbakar semangat karena orasinya. Memang tidak semuanya tapi banyak.
Orasi itu seharusnya mampu membakar orang yang mendengarnya. Sebab dalam gerakan massa, orasi lah kunci dari keberhasilan gerakan. Orasi yang diterima oleh massa akan menggerakkan mereka ke arah yang orator inginkan.
Saya memang bukan orator ulung. Tapi sebagai pendengar saya pasti mau mendengar orator yang bahasanya jelas. Karena pendengar itu ingin dibakar semangatnya lewat orasi yang disampaikan.
Saya senang dengan demonstrasi yang memiliki niat baik. Tapi terkadang jadi kebingungan sendiri karena pesan yang mereka ingin disampaikan malah tidak ada yang sampai.
Kita mungkin sering mendengar rekaman pidato Soekarno yang begitu membara. Orator ulung seperti Soekarno paham betul kalau yang dia sampaikan itu harus relevan dengan kondisi massa (dalam hal ini masyarakat bawah yang menjadi massanya). Penyampaian materi orasi dari Soekarno terkadang berat tapi bisa disampaikan dengan baik oleh dia.

Tahun sekarang mungkin sudah tidak ada yang bisa serupa Soekarno. Tapi sesungguhnya tidak perlu orasi seperti Soekarno untuk menarik massa. Cukup dengan menyampaikan orasi menggunakan bahasa yang benar dan mudah dimengerti.
Mungkin ini yang hilang dan tidak ditangkap oleh mahasiswa saat ini. Bahasa yang merakyat sudah jarang kita dengar. Bahasa tinggi yang disampaikan sambil teriak-teriak justru hanya terdengar seperti orang yang sedang tantrum.
Jangan heran kalau masyarakat cenderung tidak lagi mendengar atau perhatian terhadap demonstrasi. Bukan hanya bikin macet tapi orasi yang disampaikan juga tidak jelas.
Mungkin ini yang harus dievaluasi. Hal ini saya perhatikan saat meliput demo mahasiswa Bogor pada hari ini Senin (12/2/2024).
Demo yang sebenarnya menarik perhatian masyarakat. Karena isunya perbaikan jalan rusak. Tapi perhatian itu hilang seketika karena orasinya tidak jelas.
Sebenarnya orasinya ada yang jelas. Bahkan bagus sekali dan lucu untuk didengar. Relevan juga dengan zaman sekarang tapi itu terlambat disampaikan.
Keburu masyarakat lain pergi. Tidak mungkin masyarakat yang sibuk dengan nafkahnya mau menunggu sampai akhir.

Bahasa yang sulit dipahami ini nampaknya mengakar begitu dalam di semua aktivis mahasiswa. Saya melihat beberapa kata-kata serupa yang dipakai mahasiswa di Bogor maupun di Makassar: yang mana dan di mana.
Kedua kata itu digunakan untuk menyambungkan antar kalimat. Itu terus diulang-ulang begitu. Padahal ini salah. Saya jadi berpikiran mungkin mereka tidak terbiasa membaca tesaurus (kamus khusus sinonim kata).
Padahal cara membuat pendengar menyimak dan tergerak adalah menggunakan bahasa yang baik, jelas, dan benar. Kalau ada yang menyanggah di seluruh Indonesia tidak mungkin begitu semua, saya tahu.
Tapi yang pasti kaderisasi mahasiswa itu cenderung sama sehingga kebanyakan pasti orasinya sama. Mungkin ini salah tapi bagi saya kemungkinan besar benar.
Kalau kata “yang mana dan di mana” digunakan maka akan sulit dipahami. Contohnya: “jalan rusak ini sudah hancur bertahun yang mana bila tidak diperbaiki akan memakan korban” mungkin sekilas biasa saja.
Tapi kalau dibaca secara cepat seperti orasi seakan-akan kita sedang bertanya. Lalu ada juga “kita datang ke sini untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat di mana pemerintah justru menghilang saat dibutuhkan “
Penggunaan kata “yang mana dan di mana” itu hanya digunakan untuk kata tanya atau pernyataan yang merujuk pada kata tanya. Contohnya: (1) Kelompok kerja Anda yang mana? (2) Dia belum tahu di mana dia akan pergi. Sedangkan kata sambung tidak boleh menggunakan kata tersebut.
Sebaiknya gini kalimat yang benar: “jalan rusak ini sudah hancur bertahun sehingga bila tidak diperbaiki akan memakan korban” dan “kita datang ke sini untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat karena pemerintah justru menghilang saat dibutuhkan,” keduanya jadi lebih bisa dibaca dan diucapkan dengan baik.

Mungkin ini jadi PR untuk kita semua khususnya aktivis untuk memperbaiki bahasa yang digunakan saat orasi. Orator ulung pasti menggunakan bahasa yang baik, jelas, dan benar.
Saya paham dan tahu betul mereka suka membaca buku. Tapi sepengatahuan saya tidak ada buku yang mengajarkan penggunaan “yang mana dan di mana” sebagai kata sambung.
*Fikri Rahmat Utama
