“Mereka belum merasakannya sendiri, jika mereka yang mengalaminya sendiri baru mereka speak up minta tolong kesana kemari, karena pemerintahnya sudah mundur, hukum amburadul, tumpul keatas tajam kebawah. Apalagi yang kelas menengah/rakyat kecil bisa bisanya dukung dia & rip akal sehat!”

Kutipan di atas saya dapat di Tiktok tapi berasal dari X~atau dulu disebut Twitter~yang merespon soal beberapa kampus yang mendeklarasikan darurat kenegaraan akibat cawe-cawe Presiden Jokowi.

Kutipan orang lain juga mengatakan sudah diingatkan oleh berbagai pihak hingga saat ini oleh guru besar namun pendukung kosong dua tidak juga sadar. Sadar kalau dukungan yang dia berikan salah.

Saya belum memiliki dukungan saat ini tapi bagi saya kosong dua bukan pilihan untuk didukung. Sebab dengan semua problematik yang terjadi sudah menjadi bukti mereka hanya mau berkuasa.

Saya hanya ingin membahas soal sifat masyarakat kita yang sangat menggambarkan ketertinggalannya dibandingkan negara lain. Saya tidak tahu mengapa di 10 tahun belakang pengembangan SDM tidak dimaksimalkan untuk masa depan yang lebih baik.

Kejadian cawe-cawe presiden nampaknya menjadi jawaban atas pertanyaan saya tadi. Sebab kita seakan dibiarkan “bodoh” agar mudah dirayu dan dipengaruhi untuk memuluskan niat pejabat dalam berkuasa. Kekuasaan yang sudah sangat enak dirasakan hampir 10 tahun ini ingin terus dilanjutkan. Entah sampai kapan.

Padahal sebenarnya masyarakat merasakan bahkan marah saat beras 13 ribu, telur 3 ribu, bensin 10 ribu, mie 3 ribu 500, cari kerja kalah sama orang dalam dan dipersulit berkasnya, orangtuanya mengeluh karena ekonomi lesu tapi mereka tidak masalah kalau itu dilanjutkan.

Mereka tetap menerima minyak goreng yang di 2021 langka berbulan-bulan, lalu jadi banjir di 2024. Keanehan yang dimaklumi karena memasuki musim Pemilu atau penghapusan dosa. Ini bisa terjadi karena mereka sudah dipengaruhi lewat dokma dan propaganda pemerintah yang sudah 10 tahun masuk ke ruang-ruang pikiran masyarakat membuat mereka punya ingatan pendek.

Nantinya siklus setan akan kembali di 2026, penyesalannya masyarakat akan muncul di tahun segitu. Setelah itu 2029 mereka tidak akan menyesal lagi nanti di 2032 baru menyesal lagi. Maka tak salah ada ungkapan kalau masyarakat Indonesia itu ingatannya pendek, sekolahnya juga pendek seperti yang saya sampaikan di atas

Dua kelemahan itu membuat pemerintah sadar dan memanfaatkanya untuk perutnya. Jadi tidak usah heran mengapa saat konstitusi dilanggar, pejabat asyik kampanye hingga terbaru anggaran bansos dinaikkan dan presiden keliling membagikan, malah dimaklumi oleh masyarakat.

Mungkin banyak yang menolak dan mengkritik terutama dikalangan akademisi tapi mahasiswa dan dosen itu hanya sekitar 10 jutaan akan kalah dengan masyarakat menengah kebawah yang sengaja dipertahankan oleh kekuasaan.

Lalu hal ini tidak bisa dielakkan, perlawanan sudah dilakukan tapi sia-sia. Pendukungnya tetap banyak. Salah dan benar itu tidak lagi dibutuhkan. Pengkultusan orang lewat dokma dan doktrin sudah berhasil membuat pendukungnya menjadi fanatik buta.

Termasuk relawannya. Saya yakin Mereka sadar mana yang benar dan salah tapi mereka membela karena di politik itu soal menang dan kalah bukan benar dan salah. Buktinya? Orang yang bersatu saat ini adalah yang saling menghina di 2019.*

*Fikri Rahmat Utama