Kita mungkin sering mendengar ucapan: Tidak ada orang bodoh yang ada orang malas. Ucapan ini seringkali kita sangkal sebagai sesuatu kesalahan sebab yang namanya bodoh tidak bisa dirubah.

Namun saya rasa hal itu tidak salah, ucapan itu justru kebenaran yang harusnya diterima oleh kita. Kemampuan kita ditentukan seberapa rajin kita belajar sebab namanya kecerdasan itu berubah seiring dengan perkembangan setiap manusia.

Kita bisa lihat bagaimana saat kita kecil tidak tahu apa-apa bahkan makan atau duduk saja tidak tahu. Tapi kemudian kita menjadi dewasa dan akhirnya mengetahui hal tersebut bahkan beberapa diantaranya tanpa perlu diajari.

Ini berarti bodoh itu memang relatif yang bisa berubah terus-menerus. Apalagi memandang kecerdasan tidak bisa dilihat dari satu sudut saja tapi banyak hal yang yang mungkin tanpa kita sadar merupakan kecerdasan yang kita miliki.

Bagi sebagian orang yang tetap merasa bodoh akan sesuatu. Mungkin saat ini ada satu pemikiran yang dirubah. Salah satu sudut pandang yang selama ini menyesatkan sehingga banyak yang merasa bodoh akan ketidaktahuan yang dia miliki.

Pemikiran yang harus dirubah yaitu bisa membedakan antara kesalahan orang lain dan ketidaktahuan kita. Serupa tapi tak sama dua hal ini. Ini yang seringkali menjebak kita sehingga ilmu itu tidak sampai.

Kesalahan orang lain itu muncul akibat sesuatu yang dia pahami berbeda dengan hal yang sesungguhnya. Sehingga kesalahan hanya akan ditemukan bila kebenaran yang hakiki itu sudah ada.

Jadi apabila kebenaran sesungguhnya atau yang hakiki itu belum ada kemudian kita mengklaim bahwa itu adalah kesalahan orang lain maka disitulah ketidaktahuan kita.

Kita seringkali terjabak dalam ruang kesalahan akibat ketidaktahuan ini. Kita selalu merasa bahwa apa yang kita ketahui merupakan kebenaran

Padahal ketidaktahuan yang kita miliki bisa saja salah. Sehingga harusnya kita tidak mengklaim begitu saja kesalahan dengan menggunakan pengetahuan kita yang belum mengetahui kebenaran sesungguhnya.

Cobalah untuk menerapkan hal ini di kehidupan sehari-hari. Ketidaktahuan kita harus pelan-pelan kita buat untuk menerima kebenaran dari yang lain.

Ibarat kata orang dulu: kosongkan gelas terlebih dahulu sebelum menerima air baru. Ini maksudnya kita harus menerima kebenaran atau pengetahuan baru agar tidak mudah menyebut orang salah.

Ini yang saya terapkan beberapa tahun belakangan. Ketidaktahuan kita itu sudah menjadi perangkap bagi kita sebab dia akan menjebloskan kita ke arah kesalahan.

Disaat orang lain benar kita malah mengatakan salah dengan ketidaktahuan yang kita miliki. Jadi mulai sekarang kita harus bisa membedakan ketidaktahuan kita dan kesalahan orang lain.

Saat ini diterpakan maka kecerdasan kita akan bertambah sehingga ucapan saya di awal tadi bisa terbantahkan. Sebab manusia dilahirkan pada dasarnya pintar tapi dia yang seringkali membatasi diri untuk berkembang.*

*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor