Apa yang terjadi kalau Michael Jordan lahir di pesisir terluar pulau Sulawesi?

Ia tidak akan menjadi legenda bola basket dunia. Mungkin saja dia tetap atlet tapi atlet voli ataupun sepakbola.

Setidaknya ini menurut saya, karena sejauh pengetahuan saya, bola basket adalah olahraga langka bagi orang desa. Orang desa khususnya di pesisir pantai dan pulau terluar Sulawesi bahkan mungkin Indonesia timur tidak familiar dengan basket.

Kami lebih familiar dengan bulutangkis, bola voli, dan sepak bola serta teman-temannya: takraw, menendang kepala orang. Olahraga itu andalan bagi kami walau yah, secara perkembangan tak begitu memuaskan.

Basket memang bukan olahraga yang populer di Indonesia. Tapi beberapa tahun ke belakang namanya mulai naik. Sudah sampai ke pesisir terluar, tapi yah tetap saja tidak mampu berkembang maksimal.

Beberapa sekolah di pesisir itu saya yakin memiliki lapangan basket tapi seringkali malah digunakan jadi lapangan bola. Basket tidak menggiurkan padahal sebenarnya tak kalah seru dari olahraga lain.

Teman saya yang dari Sulsel banyak yang jago main basket. Karena memang mereka tinggal di kota yang lebih maju di banding daerah saya.

Saya sempat mencari informasi kenapa olahraga ini tidak populer. Beberapa artikel menyebut karena kurang promosi, kurang merakyat, kurang fasilitas.

Makanya basket hanya berkembang di kota. Di tempat segala sesuatu serba ada. Semua yang kurang tadi bisa terpenuhi.

Memang basket di kota berkembang begitu cepat. Kompetisinya mungkin tidak sebanyak olahraga lain tapi peningkatan kualitasnya sangat terasa.

Basket sepertinya bisa berkembang tanpa harus ekspansi ke semua wilayah. Prestasi Indonesia di basket cukup baik dibandingkan sepakbola.

Ini yang saya rasakan saat melihat atmosfer dari liga basket anak SMA: Honda DBL. Kompetisi ini mungkin (sekali lagi) orang kota banyak yang tau, karena memang terkenal di kota saja.

Saya tau sudah lama dan di Makassar tempat saya kuliah juga menggelar ini. Tapi saya baru datang menonton di Bogor.

Sebab kebanyakan hanya di kota besar (khususnya Jawa) DBL ini dibuat. Sulawesi hanya di Manado dan Makassar. Papua, Maluku juga tidak ada. Kalimantan: hanya Kalsel yang ada.

Tak hanya basket, dance mereka juga dilombakan. Benar-benar cita rasa kota. Pesertanya anak SMA dan sebagai orang yang baru menonton, saya rasa ini sangat seru.

Tak hanya permainan mereka, antusias suporter juga sangat luar biasa. Atribut-atribut yang dibawa saya rasa pasti tidak murah. Saya nonton di Bogor, pesertanya dari luar Bogor dan pasti memerlukan biaya cukup besar untuk menggerakkan massa begitu banyak.

Beberapa hal yang saya ungkapkan di atas setidaknya mungkin bisa jadi dasar. Kalau bola basket itu olahraga orang kota.

Sebab bagi anak desa seperti saya, rasa-rasanya tidak mungkin mau keluar uang cukup banyak untuk olahraga. Setidaknya ini yang menurut saya, tapi mungkin berbeda dengan kalian.

Tapi semoga basket bisa berkembang di desa. Saya rasa banyak atlet potensial yang bisa didapatkan. Perkembangan zaman saya rasa sudah membuat banyak desa merasakan kenikmatan bola basket tapi mungkin tak sebesar olahraga lain.*

Bagaimana menurutmu?

*Fikri Rahmat Utama