Kota tak melulu soal hingar-bingar. Imajinasi kampung sering terjadi di sini. Kota tak berlari secepat yang kita yakini. Ia terkadang berjalan bahkan tertatih mempertahankan posisinya. Buku “Keping-Keping Kota” mengajak kita merindukan kota.

Imajinasi kota dan desa nampaknya masih bertahan hingga saat ini. Kita seringkali membayangkan kota yang berjalan begitu cepat. Waktu orang kota atau urban dihabiskan untuk bekerja dan/atau sekolah. Sedangkan desa tempat menikmati cerita manusia yang bertumbuh alami, cerita indahnya alam, sampai damainya kehidupan.

Sesungguhnya cerita serupa desa itu juga dimiliki oleh kota. Namun cerita itu seringkali terlewatkan oleh masyarakat urban. Hingar-bingar kota memabukkan kita sampai lupa begitu hebatnya cerita kota yang kita lewatkan.

Suasana sekitaran Stasiun Bogor.

Ini yang nampaknya coba dihadirkan Udji Kayang dalam bukunya “Keping-Keping Kota” dia mencoba menampilkan sisi lain dari kota. Cerita menarik khas pedesaan yang seringkali tertutup cerita nuansa kota seperti pembunuhan, kekerasan, pemerintahan, dan sebagainya.

Cerita kehidupan yang alami, masa lalu yang tak tergerus zaman, hingga hubungan antar manusia menjadi cerita yang menarik untuk diikuti. Ada 30 cerita menarik yang digambarkan dalam bentuk esai yang kaya akan referensi. Tak hanya sekedar asumsi, Udji Kayang juga menghadirkan referensi kritis di setiap esai tersebut.

Bagi saya referensi kritis yang seringkali dia jadikan pengiring di setiap esainya penting untuk diketahui sumbernya. Syukurnya dia menulis referensi kritis itu dalam daftar bacaan di belakang buku. Bisa menjadi pilihan untuk mencari bacaan baru.

Buku ini memiliki halaman 184 yang terbagi atas dua bagian. Dua bagian itu diisi dengan 15 esai di setiap bagiannya. Buku ini tak dibuka dengan kata pengantar, Udji membukanya langsung dengan daftar isi. Ini sungguh bagus bagi saya yang lebih suka isi dibanding membaca kata pengantar.

Di akhir buku, dia menulis catatan kecil soal latar belakang buku dibuat. Mungkin serupa kata pengantar seperti buku pada umumnya tapi Ia hanya menulis secara singkat dan ditaruh di akhir.

Saya jarang membaca buku bertema cerita kota. Buku ini salah satu yang bagus menurut saya. Saya kira tak berlebihan bila merekomendasikan buku “Keping-Keping Kota” untuk dibaca. Kita akan dibawa menyelami makna kota yang tak melulu soal kemewahan ataupun kriminalitas yang tinggi.

Merindukan Kota

Buku ini yang saya baca untuk menemani kepergian saya dari Makassar ke Bogor. Saya rasa referensi yang diberikan bisa jadi bekal saya mengelana di kota Bogor yang asing bagi saya. Awalnya buku ini saya hanya baca tanpa mengetahui maknanya tapi kemudian itu berubah saat mendapat notifikasi Google Maps di email.

Laporan Google Maps bulan Oktober kemarin menjadi pengingat bahwa sudah 5 kota yang saya kunjungi. Namun kepingan cerita soal kota itu justru terlewat. Saya kemudian ingin mencari cerita lain agar bisa sepenuhnya menjadi masyarakat urban.

Saya memang orang kampung bukan orang kota. Saya lahir jauh di pesisir terluar Sulawesi Tengah. Banggai Laut namanya, saat ini berstatus kabupaten. Dulu tempat ini kampung yang cukup tertinggal dengan hingar-bingar kota namun kini mulai beranjak mengejar.

Saya kemudian berpindah ke Makassar untuk kuliah. Di Makassar saya beberapa kali juga pergi ke sejumlah kota atau kabupaten yang ada dibeberapa provinsi. Saya rasa cukup banyak kota yang saya jelajah tersebut. Hal itu membuat saya seringkali rindu untuk kembali ke kota bila pulang ke kampung halaman.

Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung halaman, pemikiran saya dulu tentu tak mengira bahwa hubungan saya dengan kota akan berjalan intens. Saya dulu hanya berpikir bahwa saya sudah di tempat yang tepat. Ternyata saya salah, saya kini justru menjadi lebih jatuh cinta ke kota dibanding kampung.

Sebenarnya kampung bagi saya penting namun entah mengapa saya pikir untuk saat ini saya masih perlu waktu untuk di kota. Itu juga yang membuat saya tak lekas kembali ke kampung halaman seusai kuliah. Saya justru beralih ke kota yang lebih besar dibanding sebelumnya.

Seperti yang saya jelaskan, kondisi saya serupa dengan esai-esai Udji Kayang tadi. Banyak kepingan cerita kota yang saya lewatkan. Kota masih punya kepingan lain yang harus saya ikuti dan kumpulkan. Kita tak sepenuhnya menjadi masyarakat urban bila terlalu asyik dengan hingar-bingar kota.

Kerinduan kota serupa dengan kerinduan kampung halaman. Tak mungkin sejuta kenangan indah di kampung halaman tak dimiliki kota. Sehingga saya memilih untuk tetap tinggal di sini. Mengumpulkan kepingan cerita yang saya lewatkan selama ini agar jutaan kenangan akan kota bisa saya ceritakan di kampung halaman nanti.*

*Fikri Rahmat Utama