Mitos Sisifus dalam esai milik Albert Camus nampaknya cocok untuk menggambarkan semangat dari awak Profesi.
Mitos Sisifus diceritakan diberi kutukan oleh Zeus karena melakukan suatu kejahatan, Ia dikutuk untuk membawa batu naik ke atas gunung dan saat sampai di atas batu itu akan jatuh kembali ke bawah dan ia harus mengulangi hal tersebut selamanya. Sepanjang sisa hidupnya ia harus menghadapi hal tersebut tak peduli usianya yang akan semakin tua hari demi hari.
Namun yang patut diacungi jempol adalah semangat Sisifus yang tak menyerah dan memiliki semangat juang untuk tetap menjalani hal itu walaupun itu menyiksa dirinya.
Menurutnya eksistensinya di dunia ditentukan dirinya sendiri, dengan tak menyerah terhadap hal yang dihadapi adalah bentuk mempertahankan eksistensinya sebagai manusia.
LPM Profesi UNM saat ini sedang menghadapi sesuatu yang dialami Sisifus walaupun yang dialami Profesi dalam hal positif yaitu gerakan pers mahasiswa yang kini semakin menggeliat dan semakin besarnya tantangan menghadapi era digital, maka Profesi seakan di “kutuk” untuk bertahan di tengah arus media tersebut.
Kita tak pernah membayangkan seperti apa kerasnya perjuangan para awak Profesi terdahulu merawat lembaga kuli tinta ditengah keterbatasan teknologi, kini lembaga ini dikelilingi segala kemudahan tapi justru tantangan yang dihadapi malah semakin rumit bukan hanya tantangan internal tapi juga eksternal.
Adanya persaingan media membuat profesi harus cepat menyesuaikan keadaan dan zaman. Ia tak boleh berhenti, layaknya Sisifus bila berhenti maka akan tertimpa batu, solusinya adalah terus bergerak tak boleh berhenti atau dilindas zaman.
Lembaga ini sebenarnya dirancang untuk berkembang sesuai zaman, Abdullah Dola sebagai salah satu pendiri sudah membuktikan itu, Profesi lahir dari zaman yang bersuara di jalanan atau demontrasi sebagai sesuatu yang diharamkan.
Maka Profesi hadir sebagai media perjuangan melalui tulisan, Ia seakan menjadi angin segar bagi para aktivis kampus yang ingin terus berjuang melawan kezaliman orde baru.
Seiring berkembangnya Profesi terus menampakkan eksistensinya, bahkan sempat dibekukan akibat perlawannya terlalu kuat ke birokrat. Namun hal itu tak membuatnya mati, Ia hanya sejanak tenggelam lalu kembali timbul ke permukaan di tahun 1985 dan beralih ke Surat Kabar Kampus (SKK) untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa yang merasa kurang kalau hanya buletin.
Semenjak itu Profesi terus mengembangkan eksistensinya sebagai pers mahasiswa mulai dari merambah ke radio, media online, youtube, hingga podcast. Idealisme terus dijaga agar tak lekang oleh waktu, idealisme sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah atau birokrat kampus.
Maka sudah seharusnya semangat Sisifus terus dirawat selamanya agar eksistensi tak pernah pudar dan bisa membuat Profesi tidak hanya berkancah di tataran kampus tapi juga Indonesia.
Sedikit melihat kebelakang pada tahun 2001, Profesi mulai membuka rumah di udara lewat radio.
Hal ini melihat kondisi semakin maraknya radio yang dikelola masyarakat atau mahasiswa bermunuculan, Profesi dengan jeli mengikuti tren itu akhirnya radio mampu menarik banyak minat mahasiswa. Radio terus menerus mengalami peningkatan pendengar tak hanya mahasiswa tapi masyarakat yang terjangkau radio pun ikut menikmati.
Sejalan dengan waktu jumlah mahasiswa UNM ternyata semakin bertambah hal ini pun dilihat sebagai peluang untuk menambah jumlah halaman tabloid. Tabloid Profesi yang awalnya 8 halaman meningkat menjadi 16 halaman. Hal ini kembali mempertegas eksistensi dari Profesi.
Tak sampai disitu seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya media online. Profesi menggarap portal berita daring di laman http://www.profesi-unm.com.
Portal ini menjadi tanda profesi kini memiliki tiga media, sebagai pertanda semakin kuatnya eksistensi sebagai media kampus. Eksistensi mampu dihadirkan dan dipertahankan hingga saat ini.
Berbagai halangan dan rintangan sering dihadapi, dinamika yang terjadi selalu berubah-ubah bahkan seringkali membuat Profesi digoyang olehnya. Intervensi dari eksternal selalu muncul menguji eksistensi Profesi namun apa yang terjadi semua itu mampu dilewati dengan baik.
Eksistensi ini perlu dijaga hingga selamanya. Tak boleh dilekang oleh usia. Sebagai organisasi yang menjunjung nilai Profesional maka harus menjagah marwahnya tetap gagah sebagai pers mahasiswa. Harus bisa mempertahankan eksistensi dikancah nasional maupum kampus.
Perubahan terus terjadi, Profesi tidak bisa berhenti bergerak karena kalau berhenti maka akan tertinggal jauh dari pers lain. Pada tahun 2018 Profesi mencoba melangkah lebih jauh dengan membuat Youtube bernama Profesi Tv. Disaat media lain belum memikirkan itu Profesi mencoba jadi pendobrak gerakan baru dan ini bertahan hingga sekarang dan terus berkembang.
Menjangkau Youtube di tahun 2018 mungkin belum seterkenal sekarang dan termasuk gebrakan baru sebagai pers kampus namun ternyata hal itu tidak cukup untuk menjadi pemain dunia maya maka di tahun 2020 Profesi membuat Profesi Podcast. Podcast yang tren dikalangan muda dianggap sesuatu yang perlu dimiliki oleh Profesi.
Podcast ini membahas mengenai tips-tips seputar perkuliahan dan pers serta isu hangat saat ini sedang berkembang di kalangan mahasiswa. Podcast juga dikembangkan dari radio yang mulai tak lagi didengarkan oleh kalangan mahasiswa. Profesi merasa perlu untuk menjangkau hal itu agar tetap setia didengar oleh mahasiswa.
Segala usaha yang dilakukan Profesi sebenarnya semata-mata untuk tetap menjaga kualitas dan kuantitas terbaik kepada pembaca khusunya sivitas UNM. Kebanggaan terbesar adalah berita yang dibaca oleh sivitas dan menjadi pengaruh terhadap pola kebijakan birokrat serta kehidupan masyarakat kampus. Profesi hadir mempertahankan eksistensi demi menjaga jiwa kritis dari pembacanya.
Pandemi yang sudah terjadi selama setahun ini dan sempat mengganggu kinerja kini Profesi mencoba untuk beradaptasi. Segala hal yang berpindah kedigital turut diikuti oleh Profesi. Profesi terus menggiatkan aktifitas digital untuk menjangkau pembaca di dunia maya. Aktifitas mahasiswa yang kebanyakan dihabiskan di dunia maya, harus dijawab dengan informasi dan berita terbaru dari Profesi.
Sosial media dari Profesi selalu digiatkan aktifitiasnya ini untuk menjawab tantangan yang kini Profesi hadapi. Eksistensi Profesi harus dijaga dengan kerja jurnalistik yang baik, yang mengutamakan nilai-nilai dan kode etik jurnalistik sehingga kualitas dan kuantitas dapat ditingkatkan sejalan dengan peningkatan eksistensi Profesi.
(Tulisan ini telah terbit pada tabloid LPM Profesi UNM edisi Mei 247)
*Fikri Rahmat Utama
