Esai milik Zen RS tentang seakan jadi pukulan telak buat kita yang seringkali membuat arena sepak bola menjadi sesuatu hal yang luar biasa.
Banyak peristiwa dianggap berasal dari momen yang terjadi dalam pertandingan sepakbola padahal apa yang terjadi tidak se sederhana itu. Banyak hal yang mendukung hal itu terjadi bukan hanya karena sepakbola yang katanya menjadi syahadat dalam olahraga.
Zen memulainya dengan membahas tentang tingginya pemujaan terhadap sepakbola yang seringkali dianggap sebagai nafas suatu pergerakan atau kejadian.
Mulai dari pertandingan yang menjadi penyebab perang Balkan, lolosnya Pantai Gading ke piala dunia lalu memicu terjadinya gencatan senjata hingga keberhasilan Zidane membawa Prancis juara dunia.
Semua hal di atas Zen paparkan dan jelaskan bahwa memang sepakbola adalah indikator peristiwa itu terjadi namun bukan satu-satunya indikator.
Masih banyak hal lain yang memicu hal tersebut. Hanya saja hal lain tersebut sudah terlanjur tenggelam dalam euforia sepakbola yang begitu besar dikalangan masyarakat.
Menurut Zen fiksi yang dibangun tentang sepakbola terlalu tinggi sehingga banyak momen yang terjadi seakan-akan sepakbola pemantiknya.
Padahal sepakbola yah sepakbola hanya sebuah permainan yang dimainkan 2 tim dalam 90 menit, tidak lebih dari itu. Ia tidak sehebat yang digambarkan dalam sejarah.
Lebih jauh kedepan Zen menyinggung sepakbola yang terhenti di awal tahun 2020 akibat pandemi yang melanda. Semua teriak merindukan geliat sepakbola yang begitu besar dikalangan masyarakat.
Tak hanya di Indonesia tapi seluruh dunia merindukan sepakbola dan meminta agar sepakbola kembali digulirkan sebagai hiburan.
Sampai-sampai Jonathan Wilson menulis esai tentang sepakbola yang mengatakan sepakbola mampu meningkatkan moral masyarakat karena tak merasa sendiri dengan adanya pertandingan sepakbola.
Namun hal itu tak berpengaruh besar nyatanya Inggris mampu tetap berdenyut walau kompetisi tak bergulir. Dunia tak sederhana itu hanya karena satu hal mampu membuatnya bangkit atau runtuh.
Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa memang sepakbola menjadi momentum yang krusial bagi sebagian orang seperti yang Zen cerita bahwa mantan pemain Liverpool Shankly yang merasa sepakbola lebih dari sekedar permainan tapi seluruh kehidupannya bisa dikatakan berasal dari sepakbola.
Sepakbola telah menjadi bagian terbaik yang Ia jalani selama hidup. Shankly tidak mampu mengelak bahwa sepakbola adalah bagian dari hidupnya. Penyesalan terbesar yang ia alami pun berasal dari sepakbola.
Karir sepakbola yang ia jalani tak sedikit pun membuatnya mampu berpindah hati dengan begitu cepat karena ia telah terlanjur cinta dengan sepak bola.
Kisah mengharukan antara Shankly dan sepakbola pun yang membuat kenangan Zen dan ayahnya terulang. Ayahnya yang meninggal akibat Covid-19. Ayahnya lah yang memperkenalkan dirinya terhadap sepakbola dan membelikan baju sepakbola pertamanya dalam pergelaran Sea Games 1987.
Tak sekedar itu tulisan yang Zen dibuat itupun memiliki kisah mengharukan yaitu ia menulis sambil membantu temannya seorang jurnalis olahraga untuk mencari ambulans guna membantu ayahnya yang sedang terjangkit pandemi virus Corona.
Sepakbola menurutnya memang penting tapi tidak penting-penting amat ia menceritakan bagaimana Eriksen yang kolaps di tengah lapangan harus kehilangan karir sepakbolanya.
Namun itu resiko yang harus diambil, sepakbola bukan hal yang sebanding dengan nyawa sehingga tak menjadi masalah bila harus melepaskan karir di dunia sepakbola Zen menutup esainya dengan menceritakan kisah Gonzalez dalam novel milik Albert Camus.
Gonzalez yang merupakan pemain bola menjadi penyelundup akibat pandemi sempar yang melanda. Bahkan seiring waktu Gonzalez akhirnya merelakan dirinya menjadi sukarelawan di stadion yang membantu merawat orang yang terjangkit wabah sempar.
Sekelumit kisah di atas merupakan penggalan kisah dibalik sepakbola. Sepakbola memang merupakan jalan persatuan yang seringkali didengungkan oleh orang-orang.
Namun demikian sepakbola tak sehebat itu terkadang ia hanya menjadi penyemangat sebagian orang bahkan hanya menjadi angin lewat dalam suatu peristiwa krusial.
Tulisan ini merupakan resensi dari opini milik Zen RS yang berjudul Sepakbola di Antara Maut dan Cinta yang terbit di Jawa Pos beberapa hari setelah piala Eropa 2021.
*Fikri Rahmat Utama
