Awal 2021 jadi momen “balas dendam” mahasiswa UNM terhadap birokrasi kampus. Setelah semester lalu harus bertekuk lutut akibat tuntutan tidak terkabul.

Kali ini mencoba keberuntungan, siapa tahu pak rektor terketuk hatinya dan mengabulkan permintaan mahasiswa. Seperti semester lalu, tuntutan yang diajukan adalah subsidi UKT secara general.

Katanya ini permintaan yang berasal dari lubuk hati terdalam karena pandemi mengendurkan cuan orang tua mahasiswa. Maka dari itu subsidi jadi hal urgent saat ini dibanding vaksin Covid-19.

Ini juga jadi ajang pemanasan gerakan mahasiswa, setelah berbulan-bulan vakum akibat konflik yang tak kunjung selesai. Euforia pertama hanya diikuti sebagian mahasiswa, itupun hanya fungsionaris LK bukan mahasiswa biasa.

Karena ini gerakan pertama maka pasti hasilnya belum bisa dirasakan. Mungkin harus ada gerakan konsisten kedepannya agar apinya tidak cepat padam. Kalau sampai padam terlalu cepat maka euforianya akan berujung nihil.

Hegemoni yang dihadapi mungkin susah untuk dijatuhkan. Bahkan digoyang sedikit pun cukup mustahil. Tapi batu bisa hancur kalau ditetesi air ratusan kali, begitupun dengan hati pak rektor. Pasti akan luluh lantak bila gerakan semakin menggunung.

Jadikan euforia berakhir dengan kemenangan telak, jangan kendor kan gerakan. Kunci kemenangan adalah konsistensi, bukan hanya soal besarnya gerakan tapi sejauh mana gerakan itu mampu bertahan.

*Fikri Rahmat Utama