Hujan bulan Desember nyatanya bisa jadi pelangi buat para wisudawan. Tangis haru tidak pernah lepas dari pelupuk mata wisudawan dan orang tuanya.

Entah yang menyaksikan wisuda secara langsung ataupun daring, tetap tak menyurutkan semangat mereka. Bahkan keluarga besar juga datang menyemangati dan berharap keluarga yang diwisuda bisa merubah dunia lewat gelar yang didapatkan.

Sekitar pukul 09:00 pada 17 Desember 2020 saya sudah buru-buru untuk bersiap meliput agenda wisuda. Ini bukan hal yang wajar, karena biasanya saya tidak seantusias ini namun entah mengapa untuk wisuda kali ini saya sangat antusias dibuatnya. Sejam kemudian saya sudah beranjak ke lokasi wisuda, saya pikir saya terlambat, nyatanya wisuda baru saja sampai dipembacaan nama wisudawan.

Tak lama berselang setelah pembacaan nama, rektor pun memberi sambutannya. Sambutan yang diulang-ulang setiap tahunnya dan setiap acara wisuda tak pernah berubah begitu-begitu saja pesannya.

Saya sempat berpikir apakah pak rektor kehabisan bahan sehingga hanya mengucapkan hal yang itu-itu saja. Teman-teman lain juga demikian dari perbincangan dengan mereka, mereka juga berpandangan sama bahwa rektor seperti tidak memiliki bahan untuk berbicara.

Yang baru dari rektor, hanya soal gelar yang baru saja Ia dapatkan dari Universitas Hasanuddin (Unhas) yaitu gelar profesi insinyur. Ia pun menyebut dirinya sebagai long live education atau seumur hidup tetap mencari pendidikan. Ini juga yang menjadi bahannya untuk memberikan sambutan menurutnya mahasiswa tidak bisa puas dengan satu gelar akademk.

Baginya kalau bisa seumur hidup tetap mencari pendidikan karena pendidikan adalah bekal untuk melawan dunia, melawan kerasnya kehidupan, dan manusia bisa terbentuk menjadi sesuatu salah satunya adalah lewat pendidikan.

Ia pun sempat mengutip ayat disalah satu surah di Al-Quran yaitu “Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S. Almujadalah: 11).” Hal ini lah yang menurutnya menjadi penting untuk diperhatikan bila ingin menjadikan gelar untuk meraih dunia dan akhirat.

Saya masih belum mengerti dengan apa yang disampaikan rektor dan mengapa hal itu terus menurus Ia ucapkan. Nanti setelah selesai acara wisuda dan semua wisudawan saling berpelukan dengan keluarganya baru saya mulai ngeh dengan apa yang dimaksud pak rektor.

Ternyata memang tidak gampang memiliki gelar, gelar adalah tanggung jawab dan pengorbanan besar. Pengorbanan air mata dan darah dari mahasiswa dan orang tua, serta tanggung jawab kedepannya saat gelar itu dibawa ke masyarakat.

Hal itu juga yang membuat hati saya antusias melihat perjuangan wisudawan bersama keluargaanya. Dan ternyata rektor mengulangi pesan yang itu-itu saja karena hanya itu yang menjadi kunci bagi wisudawan dalam melawan kerasnya dunia, dengan menggunakan gelar maka wisudawan telah memiliki modal besar.

Memang salah satu cara meraih dunia dan akhirat adalah lewat ilmu, setiap orang yang berilmu pasti akan mendapatkan keistimewaan dibandingkan orang yang tak beriilmu. Walaupun ini hanya salah satu cara bukan satu-satunya cara untuk mendapatkan dunia dan akhirat.

Biasanya orang yang berilmu akan memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu berdasarkan berbagai sudut pandang sehingga membuatnya tidak mengeluarkan pendapat sembarang yang dapat menyesatkan orang lain maupun dirinya sendiri.

Gelar kini menjadi salah satu kunci untuk meraih sesuatu, orang tua rela mengorbankan apapun demi gelar anaknya. Hal itu karena gelar mampu meningkatkan derajat keluarga yang awalnya miskin bisa jadi kaya. Memang tidak selamanya kaya lewat gelar, tapi gelar adalah satu cara yang paling mungkin untuk menjadi kaya.

Mau atau tidak, kita harus menerima kenyataan bahwa gelar kini menjadi patokan untuk mengerjakan sesuatu, melamar pekerjaan, ataupun untuk menjadi pemimpin. Hampir semua hal kini menggunakan gelar.

Gelar tidak bisa hanya digunakan saat melamar pekerjaan, karena gelar adalah tanggung jawab yang mencakup semua aspek kehidupan, jadi tidak hanya saat melamar pekerjaan. Bahkan menjadi petani pun memerlukan gelar karena teknologi akan memaksa manusia berkembang, salah satu cara berkembang yah lewat gelar.

Semua ilmu akan didapatkan saat menempuh gelar itu, ilmu yang tidak didapatkan diluar dan tidak mudah dipelajari selain lewat bangku kuliah.

Kemampuan personal orang akan berbeda antara yang memiliki gelar dan tidak. Akan sangat kentara mana yang memiliki gelar mana yang tidak. Kehidupan modern membuat persaingan semakin keras sehingga gelar perlu untuk memenangkan persaingan tersebut.

Lewat gelar persaingan akan dengan mudah disingkirkan, semakin tinggi gelar maka semakin sedikit saingan. Maka tak usah heran banyak orang yang berlomba-lomba menaikkan gelar akademiknya agar saingannya pun berkurang.

Gelar akademik mulai dari sarjana, magister, doktor hingga jabatan akademik yaitu profesor. Itu semua adalah salah satu cara melawan kerasnya peradaban, cara keluar dari jurang kebodohon, dan kemiskinan. Setiap manusia memerlukan gelar, entah sekarang atau masa yang akan datang.

Mengapa demikian? Karena peradaban akan memaksa mereka untuk memiliki gelar, peradaban akan membuat masa dimana gelar akan melawan kebodohan dan merubah dunia menjadi lebih baik.

“Gelar pendidikan memang bukan satu-satunya cara menuju kejayaan, tapi Ia satu-satunya cara yang paling mungkin digunakan oleh umat manusia di masa kini dan masa yang akan datang.”

*Fikri Rahmat Utama