Ini tulisan saya persembahkan untuk membantu memberikan solusi buat teman-teman yang merasa memiliki kapasitas terhadap suatu hal tapi tidak digubris ucapannya oleh orang lain. Sebenarnya semua orang memiliki kapasitas untuk menjawab suatu permasalahan, asal masalah itu sesuai dengan bidang ia tekuni.
Contohnya seperti masalah di laut khususnya dalam hal menangkap ikan yang memiliki kapasitas untuk menjawab adalah nelayan karena mereka yang setiap hari bekerja untuk menangkap ikan. Jangan malah masalah tangkap ikan tapi petani yang ditanya, itu sudah pasti tidak nyambung.
Kejadian di atas adalah hal yang akhir-akhir ini lagi tranding. Seperti yang kita ketahui banyak orang membicarakan sesuatu yang bukan bidangnya. Semua orang menjadi merasa perlu mengungkapkan pendapatnya yang menurutnya benar dan harus diikuti. Bependapat ya silahkan tapi memaksa agar pendapatnya menjadi suatu pembenaran ini yang salah.
Banyak hal yang menjadi teledor karena pendapat keluar bukan dari ahlinya. Yang merasa ahli juga tidak sepenuhnya diam, ada yang bicara tapi karena ruangnya terbatas maka suaranya menjadi tak terdengar ibarat dalam ruangan si ahli ini bicara dari ruangan yang kedap suara ke ruangan sebelah ya pasti tidak kedengaran lah.
Yang lebih kedengaran adalah orang yang memiliki ruang dan wadah besar, siapa itu? Yup artis, influencer, atau youtuber. Pokoknya orang yang memiliki media sosial dengan pengikut yang banyak, sehingga saat ia berbicara maka banyak orang yang akan lihat dan bisa menjadi percaya dengan yang ia ucapkan.
Artis atau influencer ini benar-benar jadi momok menakutkan dalam bersuara menurut saya. Karena kalau sampai ia bicara banyak hal akan terjadi, kalau yang disampaikan itu benar ya tidak masalah tapi kalau salah dan menyesatkan gimana? Pasti banyak yang akan percaya juga dan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
Walaupun begitu tetap saja banyak artis yang tidak menempatkan dirinya dengan tepat, seringkali ia berpendapat tentang sesuatu yang ia tidak kuasai. Kejadian begini dari dulu sebenarnya terjadi, kita bisa lihat di tayangan infotainment para artis ditanya tentang kejadian-kejadian aneh di masyarakat.
Saya tidak tahu kenapa mereka yang ditanya tapi ini tidak tepat menurut saya, karena tidak akan ada informasi yang didapatkan dari mereka selain pengalaman pribadi itupun kalau pernah mereka alami, kalau tidak gimana?
Kejadiannya pun terus berulang karena jadi kebiasaan kini adanya media sosial yang semakin besar di masyarakat membuat artis lebih bebas berpendapat. Mulai dari foto pasien Covid-19 yang ikut dikomentar oleh para artis, komentarnya juga tidak berbasis literasi hanya komentar asal-asalan.
Hingga yang terbaru kasus Anji dan “Prof” Hadi Pranoto, saya setuju dengan Anji yang mengatakan jangan salahkan dia atas komentar yang dikeluarkan oleh Hadi tapi kan Anji sendiri yang menyebarkannya kok malah lempar batu sembunyi tangan kalau salah yang dua-dua harus bertanggung jawab dong.
Tidak hanya anji yang berbuat demikian artis lain juga begitu mengeluarkan pendapat yang tidak sesuai dengan kemampuan yan ia miliki. Kini banyak artis yang menjadi ahli di segala bidang. Mungkin ada yang membela bahwa mereka juga punya kesempatan untuk berpendapat, tapi ayolah kalau bisa hal yang dikuasai yang diberi pendapat atau minimal perbanyak literasi agar pendapat itu lebih baik dan terstuktur.
Saya sendiri bersama netizen lebih setuju dengan pendapat Ariel Noah yang pernah ia utarakan di video bersama Anji, ia mengatakan tidak ingin berpendapat dalam hal yang ia tidak kuasai tapi kok bisa Anji sampai lupa dengan ucapan Ariel padahal kalau sampai hal itu ia lakukan maka ia tetap menjadi artis panutan banyak orang termasuk saya.
Besarnya dampak yang artis timbulkan melalui ucapan ataupun pendapatnya. Menjadi solusi untuk kita yang ingin suaranya lebih didengar oleh masyarakat coba berpikir dua kali untuk menjadi ahli. Kenapa tidak berpikir menjadi artis, atau bisa juga menjadi ahli sekaligus menjadi artis agar argumen lebih bisa didengar dan diikuti. Artis punya media yang bisa membuatnya besar sehingga argumen dan pendapatnya akan lebih didengar dari pada ahli biasa.
Bayangkan anda itu seorang ahli yang menjadi dosen di kampus bukan pejabat di pemerintahan bukan juga artis maka saya yakin hanya sedikit media yang bisa anda gunakan untuk menyebarkan pendapat dan argumen. Mentoknya hanya di kampus atau karya ilmiah yang sudah jarang dibaca oleh masyarakat.
Ini permasalahan bersama kalau artis bisa jadi ahli disegala bidang maka ada yang bermasalah karena pendapat para ahli jadi jarang didengar. Seperti yang saya katakan di atas saya dan generasi selanjutnya pasti akan berpikir menjadi artis agar bisa didengar pendapatnya dan menggerus pendapat ahli.
*Fikri Rahmat Utama
