“Mulutmu harimaumu,” mungkin umpatan ini seringkali kita dengar sedari kecil. Umpatan ini biasanya digunakan untuk orang yang suka mengeluarkan ucapan yang tidak bisa dia pertanggungjawabkan.

Janji contohnya, orang seringkali berjanji tapi tidak bisa ditepati sehingga ia berupaya untuk menutupi janji itu dengan berbagai cara. Entah menjadi lebih galak dari orang yang ia janjikan ataupun diam dan mencoba menjauh agar tidak diminta pertanggungjawaban akan janjinya.

Tapi yang namanya janji tetap saja janji, sejauh mana mau pergi tetap akan terbayang-bayang bahwa ada janji yang harus ditepati tak terkecuali walaupun yang membuat janji itu telah meninggal dunia.

Janji bagi saya adalah hal yang berbahaya karena janji bisa saja menyesatkan manusia terlebih janji yang dibuat saat terdesak. Janji seperti ini biasanya hanya membuat pertikaian antar pembuat janji karena janji tersebut tidak bisa ditepati sedangkan pihak yang dijanjikan sudah sangat berharap agar janji itu ditepati.

Kalau sudah kejadian seperti itu bagaimana dong? Apakah saya harus merelakan dia tidak tepati janjinya atau saya harus menuntut terus? Ini pertanyaan yang selalu timbul dibenak saya saat janji-janji tidak ditepati oleh orang lain maupun saya sendiri.

Saya sering juga berjanji untuk melakukan sesuatu dan janji itu seringkali saya tidak tepati.

Makanya saya berpikir kalau misalnya saya sering tidak tepati janji apakah iya, orang yang tidak menepati janji ke saya merupakan karma buat saya? Kalau benar haruskah saya diam. Dan tidak berbuat apa-apa untuk menyelesaikan janji itu.

Ini yang buat saya diam kalau mendapatkan janji yang tidak tepati saya pikir karena ini karma yah ikhlaskan saja. Tapi setelah saya pikir lagi kalau saya diamkan hal ini malah tambah parah kejadiannya.

Seringkali kejadiannya bisa membuat kita lebih sakit hati dan sakit kepala. Walau saya coba untuk terus-menerus diamkan tapi tidak bisa hilang. Mungkin umpatan diatas sudah benar-benar terjadi dalam diri saya sehingga saya dituntut merubah sikap saya.

Dari bacaan yang saya baca entah itu buku atau artikel ternyata janji memang sesuatu yang sakral. Sehingga kalau kita tidak bisa tepati satu janji usahakan janji lain bisa ditepati atau kejadian seperti saya akan terjadi.

Menurut saya diam itu bagus tapi tidak bisa diberlakukan disemua tempat. Karena setiap tempat itu memiliki suasana yang berbeda sehingga diam itu bukan solusi akhir yang bisa diambil secara langsung.

Sebaliknya menyelesaikan janji adalah hal terbaik yang seharusnya dilakukan. Percuma berjanji kalau tidak bisa ditepati karena bisa saja menyesatkan kedepannya.

Berbeda dengan diam kalau menyelesaikan pekerjaan yang tertunda termasuk janji adalah hal yang bisa diterapkan disemua tempat. semua tempat pasti akan menerima kalau kita mampu menyelesaikan sesuatu termasuk janji.

*Fikri Rahmat Utama