“Perhatian-perhatian, disampaikan untuk seluruh penumpang KM Rejeki Baru bahwa sebentar lagi kapal akan segera sandar di pelabuhan Banggai. Sesuai prosedur penanganan virus corona setiap penumpang diharapkan turun dengan teratur dan mengikuti pemeriksaan yang akan dilakukan di pelabuhan nantinya. Terimakasih !! “
Baru saja bangun dari tidur, saya sudah disambut dengan pengumuman di atas. Padahal saya kira masih panjang perjalanan ternyata cahaya matahari sore yang mulai lari dari langit itu jadi pertanda bahwa kapal akan segera bersandar. Iya, saat itu sore hari menjelang magrib orang-orang masih sibuk terlelap dalam mimpinya. Seorang anak baru saja terbangun dari mimpinya dan merengek minta susu dari ibunya. Petugas kapal nampaknya masih sibuk beberes disekitar kapal agar kapal tetap terlihat bersih dan nyaman untuk penumpang, Kamis (2/4/20).
Mendengar pengumuman saya lekas melihat ke luar jendela, sembari bertanya-tanya sudah sampai di mana kah kapal ini. Tengok kanan-kiri akhirnya kelihatan kota itu, kota kecil yang ukurannya hanya seukuran salah satu kecamatan di Makassar. Melihat hal itu tak ayal saya pun mulai mempersiapkan diri dan beberes barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal. Tak lama handphone pun berdering, ibu saya menelpon untuk yang kesekian kalinya.
“Halo nak, sudah sampai di mana mi ?” tanyanya.
“Baru di depan kota ini sekitar 10 menit lagi baru sampai,” jawabku.
“Oh iya, langsung mi naik ojek baru kemari yah,” balasnya.
“Oh iye nanti saya ojek ma,” tak lama berselang ibuku langsung menutup telponnya.
Setelahnya saya mulai menjinjing tas ransel, tas ransel ini cukup berat walaupun tidak banyak isinya mungkin karena saya sudah tidak terbiasa membawa tas-tas berat jadi baru bawa tas berat sedikit sudah capek sekali dirasa. Kapal pun sandar di pelabuhan dan kaki pun saya bawa melangkah ke luar kapal di sana petugas kesehatan, polisi pamong praja, PMI, dan beberapa polisi sudah menunggu. Tentu bukan hanya saya yang mereka tunggu tapi semua penumpang kapal yang ditakutkan membawa virus corona.
Sampai di pelabuhan ternyata tidak seperti dahulu, orang-orang tidak diizinkan masuk, sepanjang pelabuhan di pasang pagar besi jadi hanya petugas yang bisa masuk. Saya pun diarahkan ke terminal tunggu, untuk jalani pemeriksaan kesehatan. Saya berjalan dengan beberapa orang karena disuruh jalan bersamaan agar teratur katanya. Baru saja berjalan beberapa meter langkah sya dihentikan oleh petugas karena tas dan bawaan saya mau disemprot cairan disinfektan setelah itu baru bisa lanjut lagi. Tak hanya disiram disinfektan tapi saya diarahkan untuk cuci tangan dan diperiksa suhu tubuh lalu diwawancarai mengenai kesehatan dan keluhan yang saya rasakan.
Setelah semua prosedur itu selesai saya bisa pulang dengan catatan disuruh untuk karantina mandiri di rumah. Bentor saya sapa untuk minta diantarkan ke rumah saya, pelabuhan menuju rumah saya hanya memakan waktu 5 menit jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai. Saya habiskan lima menit itu dengan melihat suasana kota Banggai ternyata tak seperti dulu. Kota ini sangat sepi tidak banyak kendaraan lalu-lalang padahal hari itu baru saja sekitar jam 6 sore, jam yang seharusnya banyak orang keluyuran tapi hal ini tidak saya dapatkan di hari tersebut.
Sesampainya di rumah saya tidak bisa langsung masuk karena dari jauh sudah dicegat oleh bapak saya.
“Stop disitu,” teriaknya.
Ia lantas menyuruh saya untuk untuk melepas semua pakaian dan merendamnya di air hangat, tak terkecuali dengan tubuh saya. Saya juga diperintahkan untuk segera mandi diair hangat yang katanya untuk menghancurkan virus.
“Rendam semua pakaianmu di air hangat itu mandi juga langsung, saya sudah sediakan semua peralatan mandi itu,” perintahnya.
Melihat hal itu mau tidak mau saya harus menurutinya. Saya pun mulai melucuti pakaian dan semua bawaan dan langsung mandi di air hangat tersebut. Panas, itu kesan pertama yang saya rasakan sehingga saya beberapa kali harus berhenti sejenak untuk menahan rasa panas itu.
“Ini bukan air hangat tapi air panas,” ucapku dalam hati.
Berselang kemudian air biasa pun saya tambahkan di air mandi agar tidak terlalu panas dan saya pun mandi hingga air tersebut habis. Setelah nya saya diarahkan untuk langsung ke kamar. Ternyata di sana saya sudah disiapkan kamar sendiri dan saya disuruh untuk karantina mandiri selama empat belas hari lamanya. Saya hanya diizinkan keluar hanya untuk mandi, makan dan berjemur selebihnya saya hanya diizinkan untuk dikamar sampai dengan waktu karantina selesai.
*Fikri Rahmat Utama
