Jadi seperti yang kita ketahui bahwa semua orang di dunia ini lagi melawan pandemi Covid-19. Sudah ribuan orang terjangkit virus ini dan hampir semua negara bisa dipastikan sudah terkena virus ini.
Tak terkecuali di Indonesia. Walaupun di Indonesia virus ini datangnya tidak secepat negara lain tapi ternyata negara kita jadi salah satu negara dengan tingkat persen kematian tertinggi akibat Covid-19.
Para medis kini tengah berjuang untuk menangani pasien yang kini tiap hari semakin bertambah dan bertambah. Updatetan terakhir virus ini sudah menjangkau 1.115 orang, sembuh 59, dan meninggal 102 orang. Ini updatetan terakhir yang saya lihat dan mungkin saja akan terus bertambah setiap waktu.
Tidak hanya membawa dampak buruk terhadap masyarakat namun virus ini juga membawa dampak buruk terhadap ekonomi, politik, dan pemerintahan. Tiga hal ini kini menjadi “amburadul” dibuatnya.
Salah satu contoh dalam hal ekonomi yaitu semakin naiknya harga bahan baku di beberapa kota di Indonesia sehingga banyak orang memilih untuk meninggalkan kota tersebut dan kembali ke tempat halamannya.
Namun, sekali lagi virus ini tetap jadi penghalang untuk mereka pulang. Adanya himbauan dari pemerintah kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan virus dengan social distancing di rumah ataupun di kos, membuat mereka dilarang untuk pulang ke kampung halamannya karena ditakutkan bisa menjadi penyebab wabah ini semakin menyebar.
Hal ini dianggap salah satu cara efektif untuk mencegah penyebaran virus. Namun tetap saja masih banyak orang yang merasa takut untuk berdiam diri di rumahnya karena takut stok makanan habis sehingga pulang kampung adalah satu-satunya jalan terbaik.
Kini permasalahan itu menjadi perdebatan di kalangan pemerintah daerah, pusat bahkan masyarakat itu sendiri. Beberapa pemerintah daerah sudah melarang warganya untuk pulang kampung namun hal itu dianggap tidak efektif karena hanya sekedar himbauan sehingga tidak memiliki ligitimasi yang kuat.
Sedangkan kota yang sudah mengeluarkan kebijakan tegas tentang dilarangnya masyarakat untuk pulang kini mulai memberlakukan sistem buka tutup jalur transportasi sehingga membuat masyarakat harus pikir dua kali kalau mau pergi dari daerah tersebut.
Arus mudik yang sebentar lagi akan dimulai pun menjadi pengeruh suasana. Diliburkannya tempat kerja dan sekolah membuat banyak orang memilih untuk “curi” start duluan untuk pulang kampung. Catatan di beberapa jalur transportasi seperti bandara, terminal, dan pelabuhan memperlihatkan kenaikan yang signifikan terhadap jumlah penumpang hal ini ditakutkan menjadi salah satu penyebab semakin parahnya wabah virus ini.
Perdebatan mengenai maraknya kepulangan orang dari berbagai kota ke kampung halaman ini juga terasa di kampung halaman saya yaitu Kabupaten Banggai Laut. Di sana orang berdebat dan saling sindir di media sosial karena banyak mahasiswa yang berasal dari beberapa kota besar di Indonesia ingin pulang kembali ke Banggai.
Banyak masyarakat yang menganggap mereka sebagai penyebar virus kalau datang di Banggai sehingga mereka tidak setuju kalau mereka pulang.
Namun mereka juga tidak tinggal diam dengan tuduhan seperti itu. Mereka menganggap bahwa mereka pulang karena dalam keadaan sehat dan tidak mungkin membawa penyakit yang bisa menyebar di masyarakat. Mereka juga beralasan pulang karena sama seperti yang saya bilang di atas karena bahan pokok mulai langka dan harganya naik dengan cepat.
Kedua pihak ini saling sindir sampai saat ini bahkan banyak mahasiswa yang malu dan takut untuk pulang karena takut jadi bahan buliying di sana nantinya.
Sebagian besar yang sudah pulang juga hanya diam-diam tanpa melakukan laporan ke pihak medis mengenai keadaannya. Ia merasa tidak sakit dan tidak pernah melakukan kontak fisik dengan pasien yang positif corona.
Hal inilah yang membuat keadaan semakin keruh. Terbatasnya tenaga medis dan peralatan medis serta tidak koperatif nya para mahasiswa dan orang yang pulang dari kota terjangkit corona membuat penyebarannya semakin tidak terkendali.
Seharusnya mahasiswa atau orang yang pulang ke Banggai harus mempersiapkan dirinya sendiri agar tidak terjangkit corona atau membawa virua corona. Salah satu langkah yang harus dilakukan yaitu melakukan karantina mandiri atau social distancing selama kurang-lebih dua minggu sebelum pulang, menggunakan masker bila sakit, dan melaporkan indikasi yang bila sakitnya mengarah ke gejala virus covid-19.
Lalu setelah itu saat melakukan perjalanan pulang mereka harus menjaga agar tidak sembarang menyentuh sesuatu yang bisa saja terdapat virus. Harus rajin cuci tangan dan menghindari kurumanan orang saat perjalanan pulang.
Tidak sampai disitu mereka juga harus berinisiatif sendiri untuk mengikuti prosedur medis bila sampai di tempat tujuan. Hal ini yang jarang dilakukan oleh orang-orang, mereka menganggap bahwa mereka sudah aman karena telah melakukan dua hal di atas ternyata dua hal di atas saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa mereka sudah bebas dari virus. Mereka harus melaporkan ke pihak medis setempat saat baru saja sampai di tempat tujuan, mengikuti prosedur yang ada serta mengatakan hal yang jujur bila ditanyakan mengenai kesehatannya. Memberikan informasi yang diminta serta tetap melakukan koordinasi dengan pihak medis selama masih dibutuhkan. Tidak sampai disitu saja mereka harus melakukan karantina mandiri bila sampai di rumahnya untuk menghindari hal-hal yang mungkin saja bisa terjadi.
Beberapa hal di atas sebaik menjadi langkah awal yang dilakukan setiap orang yang ingin pulang ke kampung halamannya karena ketakutan akan wabah ini akan semakin menjadi-jadi bila pola penyebarannya tidak diketahui.
Teman-teman mahasiswa juga seharusnya menjadi garda terdepan mengenai penanganan wabah ini. Bukan dengan berdebat kusir dengan masyarakat namun memberikan pemahaman dan informasi yang dibutuhkan agar setiap orang bisa melindungi diri dan orang lain dengan semua informasi yang bisa dipercaya.
Kebutuhan informasi di tengah krisis kesehatan ini menjadi penting bukan tanpa sebab. Tapi ini demi keselamatan bersama pulang atau tidak itu urusan setiap orang selama pemerintah tempat dia tinggal tidak melarangnya tapi keterbukaan informasi menjadi penting untuk mencegah dan mengakhiri wabah virus covid-19 ini.
*Fikri Rahmat Utama
