Hari ini saya baru saja sampai di Luwuk, saya sampai di sini setelah menempuh 1 jam perjalanan dari kota Makassar. Saya datang dengan tujuan untuk pulang kampung, walau harus melanggar himbauan pemerintah namun terpaksa harus saya lakukan karena saya tidak mau mati kelaparan di kota orang jadi saya memilih untuk pulang kampung ke Banggai supaya kelangsungan hidup saya tetap terjaga, Rabu (1/04).
Saya berangkat sekitar pukul 9:30 pagi dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Karena masih dalam keadaan pencegahan virus Corona maka saya harus menggunakan masker dan sarung tangan selama perjalanan mulai dari masuk bandara hingga keluar bandara lagi di kota tujuan. Banyak hal yang harus saya perhatikan baik-baik karena takut tertular virus itu sehingga kalau mau memegang sesuatu saja saya harus sangat hati-hati dan sebisanya untuk tidak memegang sesuatu yang seing dipegang orang lain.
Selama menunggu bording time, saya coba menghabiskan waktu dengan scroll-scroll media sosial serta sesekali mendengarkan musik dari YouTube. Saat sudah mulai masuk di pesawat saya mengambil buku sebagai teman saat diperjalanan. Pesawat pun lepas landas dan kini tengah mengudara, posisi duduk tidak seperti biasanya, kini setiap tempat bagian tempat duduk yang terdiri dari tiga kursi kursi di tengah di kosongkan. Hal ini dikarenakan pencegahan virus Corona sehingga banyak kursi yang kosong bahkan ada bagian yang hanya satu orang saja duduk di situ.
Selama diperjalanan saya cukup kepo dengan keadaan sekitar. Saya melihat banyak yang tidak mematuhi aturan untuk tidak memegang HP atau handphone selama di atas pesawat. Sebagian saya lihat masih saja pegang hp, main sosmed, dan bahkan ada yang streaming YouTube sesaat sebelum take-off. Walaupun bagi saya hal itu tidak mengejutkan namun yang menjadi keheranan adalah orang yang melakukan tersebut adalah mahasiswa. Iya, mahasiswa yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat ini malah menjadi bagian dari orang-orang yang tidak taat aturan.
Aturan dibuat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga aturan tersebut seharusnya di taati apalagi ini berhubungan dengan keselamatan jiwa. Namun tetap saja masih banyak yang tidak menuruti aturan ini dan menganggap apa yang ia lakukan tidak berpengaruh terhadap pesawat. Identitas mahasiswa yang mereka pegang nampaknya mulai hilang dengan perlahan-lahan, padahal salah satu identitas yang ditanamkan pada mereka adalah taat aturan dan tidak menjadi pelaku pelanggaran.
Sesungguhnya banyak hal yang bisa dilakukan di atas pesawat selain bermain HP, salah satunya yaitu membaca buku. Yah membaca buku mungkin adalah hal yang sederhana tapi bila dilakukan percaya atau tidak bisa lebih bermanfaat daripada bermain HP. Selain itu identitas yang dimiliki mahasiswa itu adalah buku sehingga alangkah baiknya bila seorang mahasiswa lebih memilih buki dibanding HP. Ini di Atas Pesawat bukan di atas mobil jadi buatlah kegiatan yang lebih memakan waktu dibandingkan hanya lihat HP. Kapan lagi coba bisa fokus untuk membaca buku kalau bukan diatas pesawat ? Mulai dari pesawat juga bisa jadi awal membuat kita tertarik dengan buku yang awalnya tidak suka buku saya sendiri percaya membaca di atas pesawat bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap buku.
Buku bukan sekedar teman baca tapi buku juga bisa jadi teman curhat terbaik di mana pun dan kapan pun. Dengan buku segalanya bisa didapatkan apalagi hanya untuk melepaskan kebosanan di atas pesawat pasti buku adalah cara terbaik. Kalau misalnya tidak suka buku bisa dengan cara lain yaitu tidur. Tidur juga bisa jadi pilihan tapi saya rasa tidka efektif, bisa saja tidur tidak masalah tapi lebih bagusnya tidur setelah membaca buku. Setelah dapat ilmu baru lanjut menjelajahi dunia mimpi. Itukan lebih bagus daripada hal-hal lain yang tidak memiliki dampak bagi tubuh atau otak.
Saya tidak mau menyalahkan mahasiswa yang melakukan pelanggan dan saya jadi ga tidak mau memaksa orang untuk membaca buku. Tulisan ini hanya sekedar sebagai pengingat bahwa ada hal yang lebih penting yang bisa dilakukan dibanding main HP atau melanggar aturan di suatu tempat. Sebagai contoh masyarakat mahasiswa harus bisa memberikan contoh yang baik minimal buat dirinya sendiri agar nantinya bisa jadi contoh yang baik untuk masyarakat.
*Fikri Rahmat Utama
