Memilih menjadi tua di Jakarta bukanlah keputusan buruk. Ini bisa jadi pilihan untuk memperpanjang hidup.

Beberapa pekan lalu saya kembali menyapa Jakarta yang katanya ruwetnya minta ampun. Metropolitan yang tidak pernah tidur. Kota penyangga harapan jutaan umat manusia.

Perjalanan dari Bogor saya tempuh menggunakan KRL. Karena berangkat agak siangan, saya tidak kesulitan mendapat tempat duduk. Walaupun kondisi kereta tidak bisa dibilang sepi, namun cukup lega untuk perjalanan 1 jam 45 menit.
Kelegaan ini pun saya sambut dengan mencoba memperhatikan keadaan sekitar.

Memperhatikan keadaan ini mustahil dilakukan saat padat. Waktu habis untuk mempertahankan tempat berdiri dan menjaga barang bawaan.
Dari keadaan ini pun saya terilhami menulis tulisan akhir malam ini.

Saat sampai di Manggarai, saya dan satu kawan harus melanjutkan perjalanan dengan Transjakarta. Saya baru pertama kali naik itu. Moda transportasi yang diluncurkan 15 Januari 2004 ini (eh ternyata kemarin ulang tahun Transjakarta ke-22) adalah alternatif untuk menjangkau wilayah yang tak dilewati kereta.

Di dalam Transjakarta, saya melihat banyak penumpang merupakan lansia. Hampir semua yang naik dari Halte Manggarai adalah lansia. Mereka pun saling menyapa dan mengobrol sepanjang waktu.

Obrolan yang nampaknya seru itu menjadi perhatian tersendiri bagi saya. Selain teringat kakek-nenek, Kota Bogor yang menjadi tempat tinggal saya ini adalah kota favorit untuk menua. Namun anehnya, Jakarta ternyata juga jadi pilihan yang cukup baik.

Tentu keberadaan lansia bukan satu-satunya patokan bahwa Jakarta adalah kota baik untuk menua. Namun setidaknya memastikan satu hal: tidak selamanya kota yang menjadi sarang polusi itu buruk untuk pensiun. Saya juga berpikir sebenarnya menetap di Jakarta bukan pilihan buruk karena membantu memastikan kesehatan kita bisa terjaga dengan baik.

Saya berasal dari wilayah pesisir yang jauh di tengah Indonesia sana. Saya melihat betul fasilitas kesehatan yang tidak memadai justru juga menjadi ladang kematian bagi lansia. Lansia seakan menjadi tanaman yang siap panen saat jatuh sakit. Masuk rumah sakit bukannya sembuh, malah makin sakit atau meninggal dunia.

Siapa yang perlu disalahkan dalam kasus ini? Banyak. Tapi saya tidak mau bahas ke situ. Intinya, tinggal dan menua di Jakarta juga membantu kita menjaga diri dari rumah sakit yang tidak mumpuni. Mengurangi risiko telantar atau sekadar merawat lansia yang bahkan disumpah serapah “sudah bau tanah”.

Jakarta punya segalanya. Fasilitas medis yang mumpuni di seluruh penjuru negeri ada di sini. Sekadar sakit barang 2-3 penyakit bukanlah perkara sulit. Saya yakin rumah sakit di sini sudah bisa menangani rasa sakit itu. Apalagi jika yang sakit adalah pekerja yang mudanya rajin olahraga, pasti penanganannya bisa lebih mudah.

Memang ini hanya dalam satu aspek, yaitu fasilitas kesehatan. Sebenarnya saya mungkin akan kalah telak bila berdebat akan hal ini jika menyangkut lingkungan hidup, harga rumah, atau biaya hidup yang bisa sampai 6 juta sebulan untuk satu orang. Tapi kehidupan serba ada di episentrum bisnis Indonesia ini juga menjadi daya tawar yang tak bisa diremehkan.

Namun, bila orang itu sudah mempersiapkan segala keperluannya untuk pensiun, maka menikmati masa tua di Jakarta bukanlah pilihan yang buruk. Terlebih program penghijauan dan pro warga kota sudah semakin banyak diterapkan. Kalau ibu kota sudah pindah ke IKN, maka Jakarta bisa saja masuk daftar kota favorit untuk pensiun. (*)

Jurnal Progres 2026
Judul Bacaan: Koran Kompas, Tempo, dan Project Multatuli
Kata Pilihan:
* Indo: Mustahil (Tidak mungkin), Episentrum (Pusat), Mumpuni (Menguasai/Mampu).
* Inggris: Geriatrics (Kesehatan lansia), Urban Planning (Tata kota), Accessibility (Aksesibilitas).
   Catatan Olahraga: Tidak olahraga Manggarai.
   Dilihat: Suasana pasar yang tetap punya vibes tersendiri walaupun berubah dari tradisional ke modern.
   Didengar: Suara bus Tayo yang membunyikan klakson.
   Kilas Balik:
* Kemarin: Menulis refleksi singkat tentang kecintaan pada kucing namun tak bisa memelihara (Kamis).
* Bulan Lalu: Makan siang di Senayan dan makan malam di sekitar Jalan Jendral Sudirman.
* Tahun Lalu: Saya liputan dari subuh sampai sore. Liputan kecelakaan di tol Ciawi Bogor.