Pertama kali saya menjadi wartawan profesional adalah momen yang tak layak dikenang. Saya seperti bukan menjadi wartawan, tapi manusia bisu.

Kedatangan saya di Bogor memang bukan hasil rancangan matang. Saya hanya kepikiran tiba-tiba untuk kerja, lalu sat set mencari loker hingga akhirnya diterima. Namun, hal itu membuat saya tak mempersiapkan diri dengan baik.

Persiapan yang baik adalah pintu pelaksanaan yang baik pula. Hanya saja, saya tak merencanakan kerja di Bogor dari jauh hari. Jadi saya hanya menyiapkan kemampuan tulisan, bukan interaksi dan komunikasi.

Saya jatuh di dua hal itu. Sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh wartawan, terutama perantau seperti saya, malah terabaikan. Hasilnya, saya jadi kagok saat datang ke tempat kumpulnya wartawan.

Saya tak bisa berkomunikasi atau menjalin hubungan sosial. Saya lebih banyak diam. Akhirnya pun saya didiamkan oleh senior-senior dan wartawan lain.

Belakangan saya tahu bahwa komunikasi wartawan baru ke senior itu kebiasaan yang harus dilakukan. Di Bogor, bahkan setiap datang ke tempat kumpul wartawan, kita harus salaman ke semua orang. Sesuatu yang tak dilakukan selama saya di Makassar atau Banggai.

Saya sebagai junior harusnya rajin membuka percakapan dengan senior. Bertanya kepada mereka terkait liputan atau hal lain. Ini tidak saya jalankan, yang pada akhirnya saya kena batunya: lambat mendapatkan jaringan narasumber.

Jaringan narasumber menjadi fitur penting yang harus dimiliki wartawan. Tanpa ini, maka liputanmu akan sulit dan rumit. Itu yang saya rasakan akibat terlambat membangun jaringan.

Saya harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan kontak narasumber. Walau terdapat sisi positif—saya menjadi lebih rajin ke lokasi kejadian atau narasumber—tetapi konfirmasi menjadi sulit.

Bertemu di lapangan itu tak selamanya bisa wawancara dengan narasumber. Karena mereka terkadang ingin berbicara kepada yang dikenal atau menghubunginya lebih dulu.

Saya merasakan sensasinya membangun jaringan ini saat ditempatkan di Kabupaten Bogor. Saya melihat senior sudah tidak perlu ke mana-mana untuk mencari berita, karena berita yang datang ke dia.

Saya tentu saat itu berbeda. Harus panas-panasan dan dingin-dinginan untuk mendapatkan kontak atau komentar narasumber. Saya tidak bisa menulis di dalam ruangan yang ber-AC layaknya senior.

Namun, yang namanya jam terbang tetap akan membentuk seseorang. Itu pun terjadi ke saya. Walaupun bukan orang Bogor yang tidak bisa berbahasa Sunda, tapi perlahan tapi pasti saya membangun jaringan narasumber.

Pada saat kembali ditempatkan ke Kota Bogor, saya menuai hasilnya. Saat menikah, beberapa narasumber menyumbangkan dana ke saya. Walaupun tidak begitu banyak, tapi cukuplah untuk membantu pulang ke Bogor.

Kini setelah dua tahun menjadi wartawan, akhirnya saya bisa mendapatkan berita tanpa keluar liputan. Sudah bisa menjadi wartawan yang menulis dalam ruangan. Selayaknya senior yang dahulunya cuek karena si juniornya ini tak kunjung menyapanya duluan. (*)

Jurnal Progres 2026:

1. Judul Bacaan: Bab tiga dan empat dari buku The Principle of Power
2. Kata Pilihan:
* Indo: Kagok (Canggung), Jejaring (Koneksi), Menuai (Memetik hasil).
* Inggris: Privilege (Hak istimewa), Access (Akses), Introvert (Tertutup).
3. Catatan Olahraga: Belum olahraga rencana mau Badminton tapi belum ditau kapan.
4. Dilihat: Bangunan pasar yang sudah mulai tua setelah sekian lama berdiri.
5. Didengar: Suara sendiri yang terdengar begitu besar di dalam ruangan yang tertutup.
6. Kilas Balik:
* Kemarin: Menulis tentang “Kebiasaan Mengetik” dan keinginan beli laptop baru (Senin).
* Bulan Lalu: Saya datang untuk meliput final futsal ternyata salah jam. Saya harus menunggu sampai selesai sekitar 5 jam dari jam 11 samlai sore.
* Tahun Lalu: Masih sering diabaikan narasumber karena belum dikenal.