Dulu, saya terbiasa mengetik menggunakan keyboard. Namun, setelah lama tak menggunakannya, jari-jari ini menjadi kaku dan sakit saat mencoba kembali.

Saya menggeluti dunia tulis-menulis sejak enam tahun lalu, saat duduk di bangku kuliah. Sayangnya, saya tidak mempelajari menulis dari bangku kelas, melainkan dari organisasi. Pers mahasiswa yang saya ikuti membantu saya lancar menulis, terutama berita.

Dahulu saya jarang menulis menggunakan HP. Walau tahun segitu HP sudah dipakai setiap hari, tapi di pers mahasiswa hal itu tidak berlaku.

Kami lebih banyak diwajibkan menggunakan keyboard laptop atau komputer. Kami disuruh duduk lalu menuangkan hasil liputan dalam tulisan. Setiap kesalahan yang diperbuat akan ditegur secara langsung. Ini juga yang membantu kami memiliki kemampuan yang cukup baik.

Selama empat tahun menjadi anak pers mahasiswa, mengetik cepat di keyboard bukan sesuatu yang sulit. Walaupun belum bisa menulis sepuluh jari, akan tetapi saya bisa menulis berita atau tulisan lain dengan cepat.

Saya bahkan mengalami perubahan dalam mengetik di handphone. Saya menjadi agak kaku menulis berita atau tulisan lain di HP. Saya lebih suka dan lancar menulisnya di keyboard komputer atau laptop.

Namun, setelah selesai kuliah dan bekerja di perusahaan pers, semua itu berbalik 180 derajat. Saya digenjot menulis cepat menggunakan HP. Bekerja kebut-kebutan dengan wartawan media lain.

Itu membuat dua tahunan kerja saya menjadi terbiasa menulis menggunakan HP. Kaku dan ketidaklancaran seakan mulai hilang. Walaupun tidak sepenuhnya bisa berhenti typo, tapi setidaknya sudah cukup untuk menulis berita cepat.

Hanya saja, kemampuan ini harus mengorbankan kemampuan menulis di keyboard. Saya seakan menjadi kaku untuk menulis di keyboard laptop. Ini terbukti saat Ujian Kompetensi Wartawan (UKW), laptop yang saya bawa menjadi tidak berguna.

Karena saat menggunakan laptop saya menjadi lambat menulis, kaku, bahkan cepat sakit tangannya. Akhirnya saya memutuskan menggunakan HP untuk menulis. Hasilnya sudah bisa ditebak: lebih lancar dan cepat.

Saya kemudian mencatat suatu keinginan di tahun 2026: Saya ingin punya laptop. Saya mau melancarkan kedua kemampuan menulis ini. Lancar di keyboard laptop dan di HP.

Saya punya kemauan juga untuk menulis sepuluh jari. Dan ini hanya bisa diwujudkan dengan laptop. Setelah sekian lama tak memikirkan punya skill baru.

Menulis sepuluh jari agaknya paling cocok untuk melawan dominasi AI yang semakin cepat. Saya menjadi lebih terlatih dan mudah menulis. Sebab selama ini saya punya kelemahan ide yang cepat berlalu. Dengan kemampuan baru ini, saya harap bisa membantu menangkap ide-ide tersebut. (*)

Jurnal Progres 2026
1. Judul Bacaan: Dua bab dari buku The Principle of Power
2. Kata Pilihan:
* Indo: Kebut-kebutan (Persaingan cepat), Kompetensi (Kecakapan), Dominasi (Penguasaan).
* Inggris: Touch Typing (Ketik 10 jari), Device (Perangkat), Adaptability (Kemampuan beradaptasi).
3. Catatan Olahraga: Seharian ini lupa olahraga cuma tidur yang kebanyakan.
4. Dilihat: Hujan yang syahdu sepanjang hari
5. Didengar: Suara bus Tayo yang telolet tanpa mengenal waktu bahkan tengah malam.
6. Kilas Balik:
* Kemarin: Ke Jakarta ketemu Mentan. Bangun pagi sekali untuk ke kantor dan ramai-ramai ke rumah mentan. Ini membuat saya belajar memimpin dan mendengarkan celotehan para pemimpin.
* Bulan Lalu: Naik motor ke puncak untuk ikut workshop Jurnalisme Inspiratif CIMB Niaga.
* Tahun Lalu: Saya pindah kosan setelah satu tahun lebih tinggal di kosan lama. Lingkungannya lebih tenang di kosan lama dibandingkan kosan baru. Tapi kosan baru lebih lega, luas, dan tidak panas.