Kepindahan saya ke kontrakan baru ini sudah berjalan hampir tiga bulan. Nyaman iya, tapi pusing juga iya—pakai banget lagi.
Kontrakan yang saya tempati saat ini sebenarnya jauh dari jalan raya. Tidak tepat di pinggir jalan, mungkin sekitar 200-400 meter dari jalan utama.
Tapi, jarak itu hanya berlaku kalau kita melewati “jalan manusia” atau akses yang biasa dilewati sehari-hari. Rumus jarak ini tidak berlaku bagi suara jalanan yang terasa begitu dekat.
Sebabnya, posisi kontrakan ini berada di ujung perumahan. Bagian belakangnya—yang tentunya tidak bisa dilewati orang—menghadap langsung ke jalan raya.
Antara belakang rumah dan jalan raya pun tak ada bangunan lain yang berdiri, sehingga suara datang langsung tanpa halangan.
Itulah yang menjadi masalahnya. Suara masuk “mulus” ke kamar seakan rumah berada tepat di pinggir jalan. Ribut. Saya merasa cukup tidak nyaman.
Terutama di hari Sabtu; malam Minggu yang syahdu bagi pasangan muda dan para pembalap jalanan membuat suara makin ramai.
Awalnya saya tidak menyangka akan terjadi hal ini karena secara akses, jaraknya jauh dari jalan raya. Namun ternyata, belakang rumah yang menghadap jalan dengan lahan kosong jadi momok tersendiri.
Saat saya menulis tulisan ini pun, suara motor masih terdengar begitu jelas. Motor, mobil, dan yang paling ribut: bus Tayo yang “telolet” tanpa mengenal waktu.
Apalagi jalan raya di dekat tempat saya berada di bawah flyover tol, yang membuat suara memantul semakin kencang.
Saya pernah sampai memberitakan kebisingan ini karena aktivitas kebut-kebutan yang dilakukan anak muda. Bahkan sampai ke polisi pun saya laporkan. Tapi yah, tetap saja kebiasaan seperti ini sulit dibasmi.
Walaupun terganggu, mau tidak mau saya harus tetap menjalaninya. Setidaknya untuk beberapa tahun ke depan sebelum pindah ke tempat lain.
Begini saja sudah begitu terganggu, apalagi mereka yang rumahnya tepat di samping jalanan—tidak bisa dibayangkan.
Mungkin ini juga alasan jarang ada rumah warga yang pintu utamanya berada langsung di pinggir jalan raya. Bisa-bisa penghuninya makin stres dengan kondisi lingkungan.
Sudah ditimpa kesusahan hidup, ditambah lagi kebisingan motor yang tanpa empati. Wassalam sudah. (*)
*Kota Bogor, 2 Januari 2026
