Saya mencatat 2025 sebagai tahun yang berat. Indonesia menutupnya dengan duka bencana di Sumatera, sementara Bogor—kota yang setiap hari saya liput—juga berjalan terseok di bawah rentetan bencana dan tragedi.

Sepanjang tahun, Bogor bergerak dalam dinamika yang padat. Saya menyaksikan pelantikan pemimpin baru, peluncuran berbagai program pemerintah, hingga ratusan peristiwa bencana hidrometeorologi yang menimpa warga. Tahun ini seolah mengingatkan bahwa pembangunan, keselamatan, dan mitigasi bencana tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Awal Januari menjadi penanda hadirnya program pemerintah pusat yang baru dirasakan langsung masyarakat: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pada 6 Januari 2025. Program ini digulirkan dengan tujuan meningkatkan kualitas gizi siswa di berbagai sekolah.

Hanya saja, sepanjang tahun ini program tersebut juga dibayangi sejumlah kasus keracunan. Saya mencatat setidaknya dua kali insiden keracunan MBG yang menyebabkan ratusan siswa menjadi korban.

Tak lama berselang, Bogor memasuki babak baru kepemimpinan. Pada 20 Februari 2025, Dedie A. Rachim dan Jenal Mutaqin dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor periode 2025–2030.

Di Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto dan Ade Ruhandi juga resmi memimpin. Pergantian ini membawa optimisme baru, terutama pada janji perbaikan transportasi, pendidikan, infrastruktur, hingga penguatan sosial kemasyarakatan.

Namun, euforia itu tak bertahan lama. Sepanjang 2025, saya justru lebih sering menulis tentang bencana. Dari laporan BPBD hingga tragedi yang datang tanpa aba-aba. Salah satu yang tak terduga yaitu gempa bumi terbesar sejak belasan tahun yang lalu.

Selain itu, sejumlah kejadian lain terjadi seperti tragedi tabrakan di Gerbang Tol Ciawi 2, jalan Batutulis longsor sehingga memutus akses warga berbulan-bulan, KRL anjlok, pesawat latih jatuh, majelis taklim dan bangunan sekolah ambruk, hingga banjir dan longsor yang berulang kali melanda berbagai wilayah Kota maupun Kabupaten Bogor.

Bencana di Puncak menjadi titik balik yang keras. Sorotan datang dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang turun langsung dan membongkar kawasan wisata Hibisc Fantasy. Langkah itu memantik perdebatan, tetapi sekaligus membuka mata banyak pihak tentang rapuhnya keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan.

Menjelang akhir tahun, suasana Bogor terasa lebih sunyi. Natal dan Tahun Baru tidak lagi sekadar perayaan, melainkan momen evaluasi dan introspeksi. Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor memilih meniadakan konvoi serta pesta kembang api pada malam pergantian tahun. Keputusan itu saya baca sebagai upaya menempatkan keselamatan dan empati di atas euforia.

Bagi saya, 2025 bukan sekadar deretan tanggal dan peristiwa. Tahun ini adalah pengingat bahwa di balik statistik pembangunan, ada warga yang terdampak, rumah yang hilang, dan duka yang tak selalu tercatat angka. Bogor menutup tahun dengan banyak pekerjaan rumah—terutama soal mitigasi bencana—yang tak bisa lagi ditunda di tahun-tahun berikutnya. (*)

*Radar Bogor – 30 Desember 2025