Pagi ini saya membaca edisi terakhir Kompas Minggu. Tahun ini menjadi penghujung terbitannya. Tulisan perpisahan yang disajikan menarik perhatian karena terasa begitu dekat dengan pembacanya.
Mulai tahun depan, Kompas akan menyatukan edisi Minggu dengan Sabtu menjadi Kompas Akhir Pekan. Katanya bakal dikemas lebih tebal agar bisa menjadi bacaan dua hari. Saya banyak merenung tentang makna “jeda” yang selama ini menjadi sudut pandang setiap rubriknya.
Sebagai wartawan, saya sadar bahwa setiap terbitan akhir pekan—di media apa pun—pasti dikemas ringan agar bisa dinikmati perlahan. Namun sebagai manusia, saya ternyata jarang melakukan itu. Kebiasaan terburu-buru membentuk saya menjadi manusia “sok sibuk” yang ingin serba cepat menyelesaikan hari.
Akibatnya, saya tidak menikmati hidup. Saya sering mengeluh akan keadaan yang sebenarnya saya ciptakan sendiri. Membaca edisi terakhir itu akhirnya membantu saya membentuk diri kembali. Resolusi saya tahun depan sederhana: menjedakan hidup di akhir pekan.
Menjeda itu penting. Kita butuh waktu untuk benar-benar istirahat, bukan sekadar melepas lelah sementara sambil tetap memikul beban hari kerja. Istirahat di akhir pekan artinya meletakkan beban di depan pintu agar napas bisa stabil. Membiarkan hidup mengalir tanpa hambatan, seperti hujan yang turun tanpa halangan atap.
Hari ini saya mencobanya, dan terbukti mampu meredakan sifat lekas marah yang sering muncul. Selama ini, istri sering jadi sasaran hanya karena masalah sepele—seperti saat ia meminta difoto ketika kami jalan-jalan. Karena saya tidak “menjeda”, saya menganggap hari libur sama tegangnya dengan hari kerja. Emosi pun meledak.
Saya bersyukur hari ini bisa mengontrolnya. Marah kepada istri itu dampaknya panjang; bukan hanya soal balas dimarahi, tapi juga energi untuk membujuknya kembali. Belum lagi jika itu menjadi arsip dosa yang bisa meledak suatu hari nanti. Saya sudah pernah kena batunya.
Menjeda kini akan menjadi kebiasaan baru. Tahun depan, libur yang hanya sekali dalam seminggu harus terasa panjang dan tanpa emosi. Apakah saya bisa melakukannya? Tidak ada yang tahu, tapi setidaknya saya akan berusaha—minimal demi menghindari amukan istri. (*)
*FiLog – Kota Bogor, 28 Desember 2025
Akhir Pekan
