Membahas mengenai toleransi antar umat beragama di Indonesia sudah tumbuh dan berkembang sebagai negara yang penuh dengan keragaman. Bahasa, agama, dan suku yang berbeda bukan menjadi halangan bagi masyarakat Indonesia untuk hidup berdampingan.

Dalam menjalani kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda dengannya salah satunya adalah perbedaan kepercayaan/agama.

Kerukunan beragama di tengah keanekaragaman budaya merupakan aset dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Dalam perjalanan sejarah bangsa, Gusdur mencoba menjaga persatuan yang sudah dibangun oleh pendahulu. Sebagai bangsa yang besar maka keberagaman harus menjadi alat persatuan bukan pemecah belah masyarakat.

Indonesia ada karena adanya keberagaman, maka kalau tidak ada keberagaman tidak perlu ada Indonesia, maka yang beda jangan disama-samakan dan yang sama jangan dibeda-bedakan.

Kalimat tersebut merupakan salah satu kalimat ikonik dari seorang Abdurahman Wahid atau Gusdur. Hal itu dituliskan oleh Gus Dur dalam sebuah buku tentang pasangan Konghucu yang sedang memperjuangkan hak sipilnya.

Hal tersebut yang harus dijaga saat ini. Sebagai bangsa, kita harus menjaga persatuan di tengah keberagaman yang ada. Ini tak lain bertujuan menjaga keberlangsungan negara dan bangsa

Indonesia lahir bukan dibangun di atas sebuah teori konflik sosial. Sehingga tidak ada kelompok mayoritas ataupun minoritas. Konflik pun tidak perlu terjadi, semua masyarakat harus saling bersaudara tanpa harus memandang suku, agama ataupun ras.

Kita harus meminimalisir konflik yang terjadi yang mengatasnamakan perbedaan. Salah satunya dalam hal agama yang sering menjadi konflik antar sesama masyarakat.

Indonesia tetaplah satu, sekalipun ada begitu banyak agama yang di anut warganya. Dengan hidup berdampingan dan saling menghargai akan lebih baik sekalipun Indonesia beragam agama, budaya, dan suku.

Saling menghargai satu sama lain merupakan hal yang tidak terlalu sulit. Semua itu untuk menghindari konflik yang berbatas namakan perbedaan. Mulailah dari lingkungan sekitar kita.

*Fikri Rahmat Utama