Sebenarnya ini merupakan lanjutan dari postingan di instagram karena saat saya baca kembali masih banyak yang kurang dan harus saya jelaskan atau ceritakan kembali. Tapi mungkin tulisan ini hanya berfokus bagaimana saya menyikapi keadaan yang terjadi saya rasa ini perlu untuk bisa menggambarkan bagaimana kedekatan kami.

“Ada yang punya foto yang begini tidak?” ucap salah satu teman di grub whatsapp sambil menujukan fotonya.

Beberapa orang kemudian langsung mengirim foto-foto tersebut, saya jelaskan dulu foto yang dimaksud ini foto yang sempat saya kirim di instagram foto itu adalah foto saat kami pengkaderan dulu jadi cukup banyak kenangan yang tersimpan di dalamnya.

Saat melihat foto itu akhirnya tulisan dan postingan saya menjadi terpikirkan untuk dibuat, kenapa begitu karena ternyata kami sudah hampir genap dua tahun dalam berkeluarga kecil di kelas. Selain itu foto itu juga adalah hari-hari terakhir dari nenek saya yang meninggal diujung minggu setelah foto itu diambil. Jadi cukup banyak kenangan di ingatan saya.

Kelas Manajemen B sebenarnya bukan kelas istimewa yang pernah saya singgahi karena sudah banyak kelas yang pernah saya singgah dan lebih seru daripada kelas ini. Namun kelas ini punya hal berbeda dengan kelas terdahulu, selain karena suasan kampusnya yang sangat teras, pertemanan juga serasa kembali ke masa kecil yang kerjanya hanya melakukan hal-hal konyol dan tidak masuk di akal.

Awalnya saya di sana tidak punya banyak teman karena saya termasuk orang yang tidak pandai bergaul, tapi lama kelamaan saya mulai menepis hal-hal yang membuat saya tidak pandai bergaul. Saya mulai mencoba untuk mencari teman dan hasilnya saya punya teman yang bisa saya anggap teman dekat hingga saat ini.

Banyak yang saya lewati di awal masuk dan di situ juga saya punya teman yang bisa diandalkan untuk menemani pulang karena dulu kebetulan saya belum punya motor jadi kesana kemari harus naik pete-pete atau angkot.

Teman saya yang cukup berani atau berani saja saya sebut yah, dia sering menemani saya pulang dengan memberi tumpangan walaupun saya tidak pernah bawa helm ke kampus tapi dia tidak masalah. Dia tetap membawa saya dan selalu mampu melewati hadangan polisi, sesuatu yang cukup mengesankan bagi saya yang masih takut kalau ditilang karena tidak pakai helm.

Di semester berikutnya saya tidak banyak menghabiskan waktu dengan teman karena sibuk dengan kegiatan organisasi. Tapi kalau ada waktu tetap saya habiskan dengan teman akrab karena memasuki semester pertengahan kami mulai membentuk kubu-kubu tapi tidak menyurutkan hubungan kami. Kalau kata senior saya kubu-kubu itu penting karena mereka berarti sudah mampu menentukan mana teman yang akrab mana tidak tapi tetap berhubungan baik jangan bermusuhan hanya karena kubu-kubu.

Itu mungkin hal yang kami pegang sehingga hingga hari ini kami masih bergandengan mesra sebagai satu keluarga. Setiap akhir tahun atau menjelang libur panjang kami selalu mengadakan libur bersama untuk sekedar santai-santai dan ngobrol panjang untuk melepas penat saat kulian. Dan itu hal yang membuat semuanya erat tanpa sekat dan terbukti, walaupun banyak kelas yang ribut kami tidak demikian tetap mesra.

Teman saya di kelas lain sempat iri dengan liburan bersama yang kami lakukan dan ia bilang tidak ada hal seperti itu di kelasnya. Malah kelasnya sering dilanda konflik karena masalah sepele yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik.

Kami bukan tidak pernah konflik, pernah tapi kami bisa redam hal seperti itu dengan cepat karena tidak banyak yang baperan di kelas kami jadi masalah gampang diseleksaikan.

Saya juga berpikir bahwa hubungan yang baik itu harus menghindari rasa baper atau bawa perasaan. Biasanya ini yang membuat hubungan retak entah itu hubungan antar pasangan ataupun organisasi. Senior saya bilang baper itu tidak bagus untuk keutuhan hubungan karena bisa saja merembes kemana-mana bila ada yang baper. Bisa saja marah, mudah tersinggung, hingga mojo atau bahasa latinnya maraju.

Saya percaya komitmen penting dalam menjalani hubungan tapi ada yang lebih penting yaitu kepentingan. Semua hubungan akan terbangun dan terjaga dengan baik bila setiap kepentingan orang dapat dijaga dengan baik.

Bagaimana caranya, dengan cara jangan mudah baper terhadap hal kecil. Saya juga sering baper tapi karena organisasi saya sangat keras didikannya terhadap orang-orang baper maka jarang saya kena hal-hal begitu lagi, cukup keraslah saya walaupun tidak keras sekali.

Begituji dulu dari saya, saya belum cerita banyak nanti part 3 baru cerita lagi yah. Karena sebenarnya angle cerita ini tentang hubungan jadi part-part selanjutnya akan menceritakan angle-angle lain dari kelas saya, see you next time!

Bella Ciao Ciao!!! *Fikri Rahmat Utama